Teruslah Berbenah

daunjatuh.com – Kita tidak pernah tahu ujung hidup kita, kecuali setelah nyawa dicabut dan jasad dikubur. Itu pun kerapkali kita tidak dapat memastikan keadaan seseorang. Mereka yang awalnya baik, semenjak kecil belajar agama, dalam perjalanannya belum tentu menjadi orang baik. Sebaliknya, ada orang yang dulunya jauh dari agama, tetapi kemudian memperoleh hidayah fil Islam (hidayah yang diberikan kepada seorang muslim) sehingga ia sangat dekat dengan agama ini dan memiliki komitmen sangat besar untuk memperjuangkannya.

Ada sebagian yang orang dulunya bukan muslim dan bahkan memusuhi agama ini, lalu Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada hidayah ilal Islam (hidayah untuk menjadi mengimani agama Islam dan menjadi seorang muslim). Arnoud van Doorn contohnya. Ia dulu membuat film yang menghinakan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dan memancing gelombang protes di seluruh dunia. Ia kemudian mempelajari Al-Qur’an dalam rangka mematahkan hujjah para penentangnya, tetapi dalam perjalanannya ia masuk Islam. Ia menjadi orang yang sangat gigih memperjuangkan Islam di Belanda khususnya dan Eropa pada umumnya.

Nah, tugas kita sebagai orangtua adalah mempersiapkan pendidikan anak sebaik-baiknya agar mereka mengenal tuhannya sebelum ‘aqil-baligh. Kita perlu berjuang mengajarkan anak kita dan mendekatkan mereka kepada agama. Kita iringi perjalanannya dengan do’a seraya melakukan berbagai upaya untuk isti’anah (memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla) bagi kebaikan iman anak cucu kita. Pada saat yang sama, kita tidak boleh berputus-asa terhadap anak-anak yang hari ini tampaknya belum bersemangat kepada agama. Boleh jadi, justru dialah yang kelak paling gigih memperjuangkan agama ini.

Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab atau terkenal dengan sebutan Habib Rizieq, semasa SMP pernah belajar di sekolah non muslim, tepatnya di SMP Kristen Bethel Petamburan setelah sebelumnya sempat belajar di SMP Negeri 40 Pejompongan.Tentu saja kita tidak boleh lupa dengan kuatnya didikan Islam yang diberikan oleh orangtua beliau. Kelak kita melihat perjuangan Habib Rizieq membela Islam dan menolak kemaksiatan yang merajalela di negeri ini. Komitmen perjuangannya tak diragukan lagi, meskipun untuk itu berbagai fitnah ditimpakan kepadanya. Sebuah pelajaran bahwa kita perlu melihat seseorang dari apa yang menjadi sikapnya, idealisme dan komitmennya pada waktu-waktu belakangan, bukan berpihak hanya ketika Islam tampak menguntungkan. Semoga Allah Ta’ala jaga beliau dan keturunannya hingga akhir hayat.

Ini bukan berarti kita boleh serampangan dalam mendidik anak dengan membiarkan mereka masuk sekolah yang tidak menjadikan agama sebagai nilai terpenting. Kasus-kasus yang keluar dari keumuman tidaklah dapat menjadi kaidah bahwa memasukkan anak di sekolah-sekolah yang bertentangan aqidahnya akan aman-aman saja. Kasus itu lebih merupakan pelajaran agar kita senantiasa bersemangat untuk berbenah, tidak terjebak oleh masa lalu, sekaligus berhati-hati agar ujung hidup kita tidak buruk. Berapa banyak anak yang semenjak awal belajar agama, tetapi setelah dewasa ia justru menjadi liberal yang rela menggadaikan agamanya.

Ingatlah kasus Bal’am bin Baurah. Ia senantiasa dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Do’anya senantiasa diijabah. Tetapi di ujung hidupnya su’ul khatimah karena menggadaikan do’a serta imannya untuk memperoleh dunia dengan mendo’akan kebinasaan bagi Musa ‘alaihissalaam dan pasukannya. Musa sendiri sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan non muslim. Tidak tanggung-tanggung: ia dibesarkan oleh Fir’aun di istananya. Sedangkan Fir’aun mengaku sebagai Tuhan dan orang-orang dekatnya mempertuhankan Fir’aun. Bukan hanya menganggap dia sekelas malaikat atau Nabi.

Meskipun seseorang dapat berubah ke arah yang lebih baik atau lebih buruk, tetapi kita tidak dapat menilai seseorang berdasarkan kemungkinan yang belum pasti. Kita menilai apa yang sekarang tampak dengan tetap berkeyakinan bahwa perubahan itu dapat terjadi kapan saja. Maka, kita berusaha agar dapat menjadi salah satu sebab perubahan dari sahabat-sahabat kita ke arah yang lebih baik. Syukur-syukur dari maksiat kepada ta’at.

Saya teringat seorang teman. Dulu dia sering meminum khamr di kamar kostnya secara sembunyi-sembunyi. Ada teman lain di kost yang sangat mumpuni ilmu agama. Ia kadang mengingatkan teman ini. Satu pelajaran yang saya petik dari teman yang sering mengingatkan adalah, kalau seseorang masih mempunyai rasa malu dalam melakukan maksiat, ia masih dilindungi haknya untuk tidak digunjing dan perlu senantiasa diingatkan. Ma sya Allah…. Beberapa tahun kemudian bertemu, teman yang dulu sering meminum khamr tersebut penampilan, pembicaraan dan pandangan hidupnya berubah drastis. Terkejut saya ketika lelaki yang berjalan bersama seorang perempuan dengan jilbab lebar berkibar tersebut adalah teman saya.

Perubahan dapat terjadi kapan saja. Bagaimana dengan kita? Semoga tidaklah kita mati kecuali dalam keadaan benar-benar sebagai seorang muslim. Karenanya, kita perlu berpegang pada tali Allah dan tidak berpecah belah. Inilah yang dipesankan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 102-103.*

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim