PRINSIP KEHIDUPAN ITU DISEBUT AQIDAH

daunjatuh.com – Ketika mendengar kata ‘aqidah, maka kesan pertama yang ada dalam pemikiran adalah keyakinan islam. Padahal ‘Aqidah adalah sesuatu yang
menyebabkan hati menjadi tenang dan jiwa menjadi khusyu’ sehingga hal itu menjadi keyakinan yang kokoh yang sedikitpun tidak tercampur keraguan.

Kalau pengertian aqidah itu kita sepakati, maka segala bentuk prinsip dan keyakinan yang menyebabkan hati seseorang menjadi tenang dengan prinsip itu, maka itulah aqidahnya.

Fir’aun mengaku sebagai pengatur seluruh sistem kehidupan rakyatnya, maka itulah ‘aqidahnya.

Sedang aqidah Qorun, sesuatu yang membuat jiwanya tenang adalah kekayaan yang dijadikannya sebagai gengsi di tengah masyarakat.

Umar bin al-khaththab sebelum islam, pedangnya mengarah pada leher Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, itulah aqidahnya (sebelum islam). Namun setelah berikrar dua kalimat syahadat di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, prinsip Umar adalah : “Jika seandainya ada sehelai rambut Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terlepas karena ulah orang kafir, maka terlepasnya leher dari badan adalah sebagai gantinya. Dan ini adalah aqidahnya (setelah berislam).

Dan ketika dia menjadi Kholifah sepeninggal Abu Bakar Radliyallaahuanhu, Umar sendiri yang mengangkat gandum diatas pundaknya untuk diantar ke rumah seorang yang miskin yang memasak batu untuk mengelabui anak kecilnya yang merengek minta makan. Itulah aqidahnya ketika menjadi Kholifah.

Bahkan Abu Bakar memberikan sebagian besar hartanya ke baitul maal saat diangkat menjadi Kholifatirrasul dan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu di hari pertamanya menjadi kholifah, pergi ke pasar untuk melakukan kebiasaannya menjadi buruh panggul. Ini bukan pencitraan, tapi itulah Aqidah mereka.

Bahkan keyakinan seseorang ketika akan pergi dan ketika keluar pintu tiba tiba ada kucing hitam lewat, maka dia harus kembali lagi. Kalau tidak, maka akan celaka. Juga prinsip prinsip kehidupan yang diambil sebagai alat pembahagia oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Apakah mereka mengaku menggunakan prinsip agama atau tidak. Apapun agamanya dan bagaimanapun bentuk negaranya. Itulah prinsip aqidah yang dipilih.

Sungguh berbeda dengan ketika mensikapi hal hal yang bersifat teknis ibadah. Mereka tidak mempermasalahkan dan sangat begitu toleran.

Ketika sebagian sahabat mengadu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selepas mereka berwukuf di Arafah dan mabit (menginap) di Muzdalifah; bahwa ada diantara mereka yang (di tanggal 10 Dzulhijjah itu) mencukur rambut, tapi belum memotong binatang hadyu untuk haji tamattu’nya, ada pula yang mengadu bahwa dia melontar jumrah aqobah ketika setelah sore. Namun semua pertanyaan mengenai teknis amalan haji setelah wukuf dan mabit di Muzdalifah jawaban Rasullah selalu : “Laa charoj” (tidak mengapa).

Berbedanya urutan dan waktu pelaksanaan itu karena sebagian mereka berangkat ke Mina tidak berbarengan dengan rombongan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Tapi ketika wukuf dan mabit, 114.000 jamaah haji itu bersama sama dengan Sang Rasul.

Begitu juga dalam kasus Abu Bakar Radliyallaahu anhu melakukan sholat witir sebelum tidur dengan alasan khawatir nanti malam tidak terbangun, sementara Umar bin Khotthob melaksanakannya setelah bangun tidur karena yakin nanti terbangun di akhir malam. Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sama sekali tidak menyalahkan teknis witir mereka, bahkan Abu Bakar dipuji sebagai orang yang hati hati dan Umar dipuji sebagai orang yang kuat dan sesuai sunnah.*

Kamis, 5 Dzulhijjah 1439.

Oleh : lbnu Fathan