Kembali Kepada Ulama

daunjatuh.com – 3 Tahun lalu saya menulis sebuah tulisan dengan judul “Bahaya di Balik Selogan Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah” dan mendapat respon beragam baik pro maupun kontra. Jika anda penasaran dimana letak bahaya dari ajakan itu silahkan di baca kembali tulisannya. Ini merupakan kelanjutan dari tulisan “Bahaya di Balik Selogan Kembali ke Al Qur’an dan Sunnah” untuk memberikan sedikit jalan kepada ummat Islam bagaimana dia harus bersikap agar bisa selamat di era akhir zaman yang penuh fitnah dan tipu daya ini..

Semangat kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah tanpa di dasari ilmu dan metodologi telah melahirkan orang-orang yang menyebut dirinya ulama tapi miskin ilmu, mengeluarkan fatwa dengan sembarangan sambil mengutip satu dua ayat atau satu dua hadist kemudian dia mengatakan apa yang disampaikan adalah berasal dari Allah dan Rasul-Nya padahal itu hanya sebuah pendapat yang belum tentu benar.

Ayat al-Qur’an yang disampaikannya tentu saja benar karena itu merupakan firman Allah yang kebenarannya tidak akan pernah diragukan lagi oleh orang beriman. Akan tetapi pemahaman dia tentang ayat tersebut terkadang bisa keliru karena langsung mengitup ayat tanpa membuka kitab tafsir yang dikarang ulama atau membuka kitab-kitab klasik berubungan dengan masalah yang disampaikan baik berupa fiqih, tauhid maupun tasawuf.

Prof Abu Khaled Aboe el-Fadl seorang sarjana, pakar, dan dosen Hukum Islam di UCLA (University of California Los Angeles), Amerika Serikat, setelah meneliti ribuan karya-karya ulama klasik (Beliau telah membaca 50.000 kitab karangan ulama) berpendapat untuk bisa mengeluarkan fatwa di dalam bidang agama seseorang harus minumal 20 tahun belajar fiqih baik dari mazhabnya maupun mazhab lain baru boleh mengeluarkan pendapat/fatwa untuk menjadi rujukan ummat.

Bisa dibayangkan betapa kacaunya kalau seseorang hanya membaca al-Qur’an terjemahan kemudian mengutip ayat kemudian mengeluarkan pendapat yang harus di ikuti oleh orang lain. Beginilah fenomena akhir zaman ini sehingga ummat menjadi bingung dengan fatwa-fatwa yang terkadang aneh.

Nabi telah mengingatkan ummat akan bahaya orang-orang yang menafsirkan al Qir’an tanpa di dasarkan ilmu sebagaimana sabda Beliau: “Barang siapa menafsirkan Al Qur’an dengan tanpa ilmu, maka siapkanlah tempatnya di neraka”.

Kekacauan lain dikalangan ummat Islam adalah ketika seseorang belajar ilmu fiqih, mungkin telah menamatkan pendidikan S3 di bidangnya kemudian mengeluarkan pendapat terhadap masalah Tauhid atau Tasawuf, hal yang tidak diketahuinya maka lahirlah fatwa sesat, bid’ah bahkan kafir karena memang dia tidak paham sama sekali. Bertanya kepada ahli fiqih apalagi fiqih ala wahabi tentang tasawuf ibarat memperbaiki jam tangan rusak di bengkel sepeda, bukan bertambah baik jam tersebut tapi bertambah hancur berantakan.

Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi di dalam kitab karya beliau berjudul “Tanwir al-Qulub fi Mu’amallah ‘Allam al-Ghuyub” menguraikan panjang lebar tentang pembagian ulama menjadi 3 golongan berdasarkan ilmu yang ditekuninya yaitu Fiqih, Tauhid dan Tasawuf. Setiap ilmu itu mempunyai imam masing-masing untuk dijadikan rujukan bagi ummat Islam.

Imam Bidang Fiqih

Imam yang menekuni dan mendalami bidang fiqih, menggali dan menetapkan hukum-hukum dari al-Qur’an dan hadis dalam masalah fiqih. Diantara mereka yang paling masyhur adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i dan Imam Hanbali. Mereka semua adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Mengikuti salah satu dari imam yang empat tersebut hukumnya fardhu, berdasarkan firman Allah Ta’ala :

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (Q.S. Yunus 62).

Selain itu juga sabda Rasulullah Muhammad SAW, “Ingatlah, bertanyalah kalian apabila kalian tidak tahu”.

Barangsiapa tidak mengikuti salah satu dari mazhab yang empat dan ia berkata, “Aku beramal menurut al Qur’an dan Sunnah”, seraya mengakui diri paham hukum-hukum dari al Qur’an dan sunnah, dia tidak diterima. Karena dia telah keliru sesat dan menyesatkan.

Terutama di zaman ini, zaman yang penuh dengan kefasikan dan banyak pengakuan yang keliru. Dia telah keliru dan sesat karena telah tampil mengungguli para imam, padahal dia lebih rendah dari pada imam, baik dalam derajat keilmuannya, amalnya, keadilan maupun dalam ketelitiannya. Sebab belum terdengar ada selain dari pada imam itu yang punya ilmu dan keadilan yang lebih unggul atau setingkat dengan mereka. Begitu juga dalam penguasaan ilmu-ilmu bahasa Arab, penguasaan aqwal (ungkapan dan pendapat) para sahabat, ushuluddin, tafsir, hadis dan hal-hal lain yang menjadi syarat-syarat ijtihad.

Imam Abu Hanifah dari kalangan tabi’in, demikian pula Imam Malik. Sedangkan Imam asy-Syafi’i dan Imam Hanbali dari kalangan tabi’it tabi’in. Masa mereka hidup adalah masa orang-orang yang baik. Sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih, “Generasi terbaik adalah generasiku, kemudian mereka yang setelahnya, lalu mereka yang sesudahnya”.

Adanya perbedaan di dalam masalah furu’iyyah (syariat fiqih) tidak menjadi soal, bahkan merupakan rahmat, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah SAW, “Perbedaan pendapat dikalangan ummatku adalah rahmat”. (HR. Al-Baihaqi).

Imam Bidang Tauhid

Imam yang menekuni dan menjelaskan masalah-masalah ushuluddin (ketauhidan) diantara mereka adalah al-Asy’ari (Abu Hasan al-Asy’ari) dan al-Muturidi (Abu Mansur al-Mutudiri). Mereka menetapkan dalil aqli dan dalil naqli untuk menjelaskan masalah-masalah tersebut, dan mereka telah berhasil menolak ketidakjelasan yang muncul dari orang-orang yang berkeyakinan sesat. Dikalangan Sunni, kedua imam ini menjadi rujukan dalam bidang tauhid dari sejak awal sampai saat ini.

Disamping Imam al-Asy’ari dan Muturidi yang membawa paham ahlussunah wal jamaah, juga terdapat 7 aliran bidang tauhid yang salah satu diantara yang besar selain sunni adalah syiah yang juga mempunyai imam tersendiri dalam bidang tauhid yang dijadikan ikutan.

Imam Bidang Tasawuf

Imam di bidang tasawuf adalah orang yang menekuni pembersihan hati dan jiwa dari kotoran-kotoran batin dan penyakit-penyakit hati seperti sombong dan hasad. Mereka mewajibkan mukallaf agar menjaga kebersihan hati dan anggota badan dari semua hal yang tidak disukai, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Pada hari dimana harta dan anak-anak tidak membawa manfaat, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (Q.S Asy-Syu’ara’, 88) Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya”. (Q.S Al-Isra’, 36).

Mereka yang menjadi imam di bidang tasawuf ini diantaranya adalah Abu Yazid al-Busthami, asy-Syaikh ‘Abdul Khaliq al-Fadjuani, as-Sayyid Muhammad Bahauddin an-Naqsyabandi, asy-Syaikh Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi, al-Junaidi al-Baghdadi, Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali, asy-Syaikh as-Suhrawardi, Makruf al-Karki, Asy-Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani dan lainya.

Mereka adalah para sufi, demikian pula orang-orang yang mengikuti mereka menjalankan kewajiban bertaqwa kepada Allah di dalam kesendirian maupun di dalam keramaian. Para imam sufi ini berada dalam petunjuk Allah Ta’ala sebagaimana hal nya imam-imam fiqih. Mereka mendasari ajaran mereka dengan akidah Ahlus-sunnah wal-Jamaah dan fiqih Imam Mujtahid. Karena itu semua imam sufi itu juga ahli fiqih.

Setelah kita mengetahui akan pembagian Imam dalam bidang masing-masing maka setiap pertanyaan yang diajukan atau setiap masalah yang didapat harus merujuk kepada 3 jenis ilmu di atas dengan kitab-kitab masing-masing yang sudah banyak di karang baik langsung oleh Imam nya maupun orang-orang setelahnya.

Islam, Iman dan Ihsan merupakan landasan utama dalam memahami Agama Islam yang sempurna ini. Islam dijelaskan lewat fiqih, Iman dijelaskan lewat tauhid sedangkan ihsan yang sangat halus harus dijelaskan lewat ilmu tasawuf.

Saya mengambil contoh sangat sederhana adalah ‘Iktikaf. Secara fiqih berdasarkan hadist dijelaskan tata cara ‘Iktikaf yang dilakukan di mesjid berdasarkan apa yang di praktekkan oleh Nabi. Namun untuk menjalankan ‘Iktikaf dengan sebenarnya tidak cukup dengan fiqih (tata cara). Para pengamal tasawuf melaksanakan ‘iktikaf dengan bimbingan Imamnya yaitu Guru Mursyidnya, dan mereka sering menyebut ‘Iktikaf dengan suluk atau berkhalwat. Jadi ‘Iktikaf di dalam bidang tasawuf bukan sekedar badan berdiam di mesjid tapi hati juga harus berdiam (wuquf qalbi) untuk senantiasa mengingat Allah.

Fiqih menjelaskan kepada kita tentang tata cara melaksanakan shalat (rukun 13) sedangkan khusyuk tidak bisa di dapat hanya dengan fiqih, tapi harus lewat ilmu tasawuf yang di praktekkan dengan medotologi warisan Nabi (Tarekatullah) sehingga siapapun yang melaksanakan shalat akan mendapatkan khusuk. Tanpa khusyuk maka shalat akan tertolak, kalau shalat tertolak maka seluruh amalan lain tertolak. Makanya belajar ilmu tasawuf itu wajib agar ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Maka kembalilah kita kepada para ulama sesuai dengan bidang masing-masing, bertanyalah kepada mereka sesuai dengan ilmunya (Fiqih, Tauhid, Tasawuf) agar kita semua bisa selamat dari dunia sampai akhirat kelak. Seorang Guru Mursyid walaupun Beliau ahli bidang tasawuf tentu saja juga ahli bidang ilmu tauhid dan mengetahui tentang ilmu fiqih, bertanyalah kepada Beliau. Beliau juga yang disebutkan di dalam al-Qur’an sebagai ahli Dzikir tempat kita semua bertanya, tempat semua kia mengembalikan setiap persoalan di dalam bidang agama sebagaimana firman Allah :

“…Bertanyalah kepada Ahli Zikir (Ulama) jika kamu tidak mengetahui” [An Nahl 43]

Oleh : SufiMuda