Taklid Boleh Apa Tidak

DAUNJATUH.COM – Ibnu al-Qoyim (w 751 H) dalam kitabnya I’lam al-Muwaqi’in meriwayatkan perkataan Imam Ahmad (w 241 H) :

لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الثوري ولا الأوزاعي وخذ من حيث أخذوا

“Janganlah kamu taklid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Tsauri atau Auza’i, ambillah dari mana mereka mengambil”

Namun perlu diperhatikan, perkataan beliau itu ditujukan untuk siapa. Ibnu al-Qudamah al-Hanbali (w 620 H) sepertinya punya jawaban untuk hal ini, beliau dalam kitabnya Roudhoh An-Nadzir berkata :

“Para ulama bersepakat bahwasannya seorang Mujtahid apabila dia mampu berijtihad kemudian dia punya sangkaan kuat akan benarnya hasil ijtihad dirinya, maka tidak boleh baginya untuk bertaklid kepada Mujtahid lainnya”

Disini nampaknya Ibnu Qudamah ingin menekankan bahwa sesungguhnya larangan bertaklid itu adalah untuk para Mujtahid, bukan untuk semua orang.

Kenapa tidak boleh ? karena para Mujtahid mampu untuk memahami hujjah, sedangkan definisi dari taklid sendiri adalah menerima pendapat orang lain tanpa memahami hujjah, jadi tidak boleh bagi orang yang mampu berhujjah untuk menerima pendapat orang lain tanpa hujjah.

Lalu bagaimana dengan orang awam yang tidak tau apa itu hujjah, apa itu dalil, bagaimana beristidlal, dll. Apakah mereka juga terlarang untuk bertaklid ?

Abu al-Khottob al-Hanbali (w 510 H) sebagaimana diriwayatkan Ibnu al-Qudamah mengatakan:

“Ilmu itu ada dua; yang pertama adalah ilmu yang tidak boleh untuk bertaklid yaitu seperti mengetahui Allah dan keesaanNya, kebenaran risalah kenabian Nabi Muhammad dan sebagainya….(masalah Ushul)

Adapun taklid dalam masalah furu’ maka hukumnya boleh berdasarkan Ijma’ para ulama.”

Ibnu al-Qudamah menjelaskan mengapa boleh taklid dalam masalah furu’, karena seorang Mujtahid ketika berijtihad dalam masalah furu’, baik hasilnya benar atau salah tetap mendapatkan pahala dan tidak berdosa, maka boleh taklid kepada mereka, bahkan wajib bagi orang yang sangat awam.

Adapun orang-orang yang menyuruh orang awam untuk berijtihad sendiri meskipun dalam masalah furu’ adalah golongan Qodariyah.

Pemahaman seperti ini batil menurut ijma para Sahabat, karena dahulu para Sahabat berfatwa kepada kalangan awam dan tidak menyuruh mereka untuk mencapai derajat Mujtahid.

Dan hal semacam ini merupakan hal yang sudah diketahui dan tersebar luas baik di kalangan awam maupun para ulamanya.*

Oleh : Galih Maulana, Lc – Rumah Fiqih Indonesia

Tinggalkan Balasan