Wisata Sejarah Islam dan Iman ke Uzbekistan

Oleh: Asma Nadia 

DAUNJATUH.COM – Seorang pejalan mengerti, setiap tempat yang dikunjungi akan selalu meninggalkan jejak berbeda di ruang batin.

Seperti kunjungan saya kali ini. Satu biro travel mengadakan perjalanan bersama Asma Nadia, dengan destinasi yang bisa dibilang tidak atau belum populer: Uzbekistan. Wilayah yang dilalui jalur sutra ini merupakan negeri ke-63 yang Allah izinkan saya datangi.

Sekalipun puluhan negara telah dijelajahi, tapi beberapa hari di negeri penghasil kapas ini segera saja meninggalkan kesan mendalam.

Awalnya, saya mengira perjalanan ke Uzbekistan hanya menjadi ziarah tempat lahir dan makam Imam Bukhari yang terbaring di negeri bekas Uni Soviet tersebut.

Namun, peninggalan dan perjalanan Islam di negeri ini kemudian menyentak tak hanya saya, tapi juga seluruh pejalan dalam rombongan. Tergugah, takjub, sekaligus teriris ketika seiring berlalunya hari makin banyak tabir yang sebelumnya tak banyak diketahui tentang Islam di negeri ini yang terbuka.

Di Hasti Imam, sebuah kompleks besar yang menjadi pusat masyarakat Islam di Tashkent, terpajang Quran warisan Khalifah Utsman yang pertama kali terbit di dunia, satu dari enam kitab suci yang paling pertama ada. Lembarannya dibuat dari kulit rusa. Pada bagian tengah halaman yang terbentang, terlihat banyak darah mengering yang berasal dari sang khalifah ketiga.

Banyak pihak percaya, bercak darah tersebut benar milik Khalifah Utsman bin Affan. Mungkin tetesan darah dari pedang, atau luka yang timbul setelah sahabat sekaligus menantu Rasulullah tersebut dihabisi dengan kejam.

Sepertinya kultur masyarakat Muslim Uzbek pada masa lalu, gemar mengumpulkan benda bernilai atau meneliti sejarah. Mungkin kultur ini pulalah yang membuat Imam Bukhari menelusuri hadis hingga akar-akarnya, meski sang perawi hidup beratus tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Tapi yang tak kalah menyesakkan dada saat perhatian terpaku pada kisah sebuah kendaraan yang disebut mobil kematian.

Pada masa kekuasaan Stalin, siapa pun yang dijemput dengan mobil ini tidak bisa menolak, pun menyadari mereka tidak akan pernah kembali alias mati.

Ketika komunis berkuasa, setiap tokoh agama dihabisi, mereka yang pergi beribadah dibunuh. Agama adalah candu, begitu moto atau jargon komunis saat itu. Karena itu, di ibu kota Uzbekistan terdapat lapangan yang disebut Syahid Square. Di bawahnya, terkubur sejuta ulama dan kaum Muslimin.

Sebagian pihak mungkin berkilah angka sejuta itu terkesan hiperbolis atau dilebih-lebihkan. Kenyataannya, semenjak Revolusi Bolshevik, pemerintah komunis Uni Soviet membantai lebih dari 61 juta rakyatnya sendiri yang tidak setuju dengan komunisme atau korban kerja paksa.

Merujuk fakta tersebut maka angka satu juta bukanlah nominal bombastis.

Semenjak komunisme menguasai Uni Soviet, kegiatan agama di Uzbekistan dan daerah mayoritas Muslim lainnya dicekal. Memiliki agama adalah hal terlarang, dan bagi yang melawan pasti dibunuh.

Sejarah membuktikan situasi ini bukan hanya terjadi di Uni Soviet, melainkan juga di negara komunisme lain seperti Cina. Bahkan di Indonesia, sekali pun tidak sempat menggenggam puncak kekuasaan, tapi ketika sempat kuat di satu wilayah, kelompok palu arit tersebut tak segan membantai agamawan dan lawan politiknya.

Sastrawan Taufik Ismail mengungkap, pemerintahan komunis di seluruh dunia telah membantai lebih dari 120 juta manusia demi memuluskan ideologinya.

Enam hari perjalanan di Uzbekistan kian menguatkan keyakinan saya akan bahaya komunisme yang dikhawatirkan saat ini di mata beberapa anak muda seolah kembali menjadi tren.

Tashkent, Bukhara, dan Samarkand, nyaris sepekan di negeri para wali, semakin menebalkan kesadaran saya dan rombongan akan perintah Allah untuk melakukan perjalanan. Dengan mengelilingi bumi-Nya, insyaallah setiap kita akan mampu belajar dan memungut remah-remah sejarah yang luput dari pengetahuan atau terlupakan. Terkait wisata halal atau wisata Muslim, umumnya yang terlintas masih ibadah umrah.

Padahal, selain Makkah dan Madinah, banyak wilayah lain yang juga memiliki makna khusus bagi umat Islam walau tidak langsung merupakan ritual ibadah.

Perjalanan Uzbekistan salah satunya. Momen jelajah yang tak hanya terasa sebagai wisata biasa, tapi juga mengetuk semangat keimanan.

Selain Uzbek, perjalanan ke negeri lain, seperti bukit Sinai di Mesir, atau Turki yang menjadi kesultanan Islam terakhir, termasuk berkunjung ke daerah Cina Muslim di Xinjiang, Yordania, atau Yaman, tempat kaum Ad yang disebut Allah dalam Quran adalah beberapa alternatif.

Banyak tempat wisata Islami yang bisa kita bidik dan tidak hanya berpotensi meningkatkan keimanan, tetapi juga menambah pengetahuan.

Jujur, masih disayangkan, destinasi wisata Islami yang tidak menyiapkan diri sebaik mungkin sebagai tempat yang ramah pengunjung. Bahkan, dengan rendah hati, harus diakui, Arab Saudi yang menjadi tujuan jutaan wisatawan umrah pun masih menyimpan deret catatan panjang.

Salah satunya, soal sikap ramah terhadap pendatang. Memang alasan penduduk dunia mengarahkan langkah ke sana bukan disebabkan keramahan penduduk atau layanan prima, melainkan semata dorongan iman.

Bayangkan jika wisata umrah dikelola secara sangat profesional. Maka wisata haji umrah akan sulit dikalahkan.

Bangsa Israel yang notabene dalam keadaan waspada perang pun saat ini menjadikan pariwisata sebagai salah satu sumber penghasilan negara.

Dan yang mereka promosikan tidak lain wisata agama dengan umat Islam sebagai salah satu target market. Italia dan Spanyol termasuk contoh negara-negara yang makmur karena ditopang sektor pariwisata.

Saya kira ini waktu yang tepat bagi negara-negara mayoritas Muslim, dengan histori agama yang kuat, untuk bergegas mengembangkan potensi wisata religiusnya sehingga sejarah umat Islam tidak hanya menjadi catatan, tetapi juga sumber pembelajaran, inspirasi iman, serta ukhuwah yang meningkatkan kesejahteraan umat.*

Sumber : ROL

Tinggalkan Balasan