Now Reading
Bersuci dengan Mengusap Khuf

Bersuci dengan Mengusap Khuf

by daunjatuhFebruari 20, 2018

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

DAUNJATUH.COM – Ada tuntunan untuk menjaga wudhu dan memperbarui wudhu. Seseorang bersuci, lalu ketika masih dalam keadaan suci ia memakai khuf, yakni sepatu terbuat dari kulit yang bersifat lentur dan biasa dipakai di dalam masjid saat shalat. Sampai sekarang, kita masih dapat menemukan khuf, terutama di negara-negara Timur Tengah. Tetapi pemakaian kaos kaki dihukumi sama dengan pemakaian khuf oleh sebagian ulama

Berkenaan dengan memakai khuf, berdasarkan hadis Al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata, “Pada suatu malam di suatu perjalanan aku pernah bersama Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku sodorkan pada beliau bejana berisi air. Kemudian beliau membasuh wajahnya, lengannya, mengusap kepalanya. Kemudian aku ingin melepaskan sepatu beliau shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau berkata:

دَعْهُمَا ، فَإِنِّى أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ . فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا

“Biarkan keduanya (tetap kukenakan). Karena aku telah memakai keduanya dalam keadaan bersuci sebelumnya.” Lalu beliau cukup mengusap khufnya saja.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Pelajaran apa yang dapat kita petik? Seseorang yang memakai khuf dalam keadaan suci, yakni ia telah bersuci dengan sempurna lalu memakai khuf, maka ia tidak perlu melepaskan khufnya apabila hendak bersuci. Ia tetap memakai khuf. Cukup baginya mengusap (مَسْحِ) permukaan atas khuf. Bukan membasuh.

Lalu bagian mana yang diusap dari khuf kita? Permukaan khuf bagian atas. Cukup bagian atasnya saja. Bukan keseluruhan. Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ.

“Seandainya agama itu dengan logika semata, maka tentu bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Namun sungguh aku sendiri telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya.” (HR. Abu Dawud).

Ini menegaskan bahwa yang diusap adalah bagian atasnya. Cukup diusap (مَسْحِ) satu kali masing-masing khuf, kanan dan kiri.

Batas Waktu Mengusap Khuf

Berapa lama kita boleh bersuci dengan mengusap khuf? Sehari semalam alias 24 jam bagi yang mukim dan tiga hari tiga malam bagi seorang musafir.

Dari Shafwan bin ‘Assal, ia berkata:

فَأَمَرَنَا أَنْ نَمْسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ إِذَا نَحْنُ أَدْخَلْنَاهُمَا عَلَى طُهْرٍ ثَلاَثاً إِذَا سَافَرْنَا وَيَوْماً وَلَيْلَةً إِذَا أَقَمْنَا وَلاَ نَخْلَعَهُمَا مِنْ غَائِطٍ وَلاَ بَوْلٍ وَلاَ نَوْمٍ وَلاَ نَخْلَعَهُمَا إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ

“Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami untuk mengusap khuf yang telah kami kenakan dalam keadaan kami suci sebelumnya. Jangka waktu mengusapnya adalah tiga hari tiga malam jika kami bersafar dan sehari semalam jika kami mukim. Dan kami tidak perlu melepasnya ketika kami buang hajat dan buang air kecil (kencing). Kami tidak mencopotnya selain ketika dalam kondisi junub.” (HR. Ahmad).

Dari hadis ini, ada beberapa petunjuk yang perlu kita perhatikan. Pertama, bersuci dengan mengusap khuf merupakan perintah Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam. Karena itu mayoritas ulama berpendapat bahwa memakai khuf dan memperbarui wudhu dengannya merupakan keutamaan. Lebih-lebih bagi musafir, memakai khuf dan bersuci dengannya lebih utama. Ia sangat dianjurkan. Adapun sebagian ulama berpendapat bahwa bersuci dengan khuf sebagai hal yang dibolehkan bagi yang mukim dan disunnahkan bagi musafir.

Kedua, tuntunan bersuci menggunakan khuf berlaku apabila kita memakai khuf dalam keadaan suci. Jadi sesudah kita bersuci, barulah memakai khuf. Selanjutnya kita dapat bersuci menggunakan khuf

Ketiga, bagi orang yang mukim, batas waktu mengusap khuf adalah sehari semalam. 24 jam. Sedangkan bagi musafir, 3 hari 3 malam. Apabila sudah melewati batas waktu, maka kita bersuci (wudhu) dengan membasuh kaki secara sempurna. Selanjutnya kita boleh memakai khuf lagi. Seiring dengan itu, tata cara bersuci dengan mengusap khuf kembali berlaku.

Pembatal Mengusap Khuf

Ada tiga pembatal mengusap khuf. Pertama, junub. Seseorang yang junub, wajib baginya mandi besar. Jika ia masih berhadats kecil, semisal karena tidak mengambil sunnahnya mandi berupa wudhu, maka ia perlu berwudhu untuk bersuci.

Kedua, berakhirnya masa mengusap khuf.

Ketiga, melepaskan khuf lalu kita berhadas pada saat khuf sudah dilepas. Meskipun belum melewati masa berlaku mengusap khuf, tetapi jika kita melepas khuf lalu berhadas, kita tetap harus bersuci dengan cara berwudhu dan membasuh kaki secara sempurna. Sesudah itu, barulah kita boleh memakai khuf lagi dalam keadaan suci.

Bersuci dalam Keadaan Berkerudung (Jilbab)

Seseorang yang batal wudhunya juga bisa bersuci tanpa melepaskan sorban maupun kopyah/peci (bagi laki-laki) atau jilbab (bagi perempuan). Cukup baginya mengusap permukaan jilbab bagian atas atau sorban tanpa melepaskannya

Dari ‘Amru bin Umayyah radhiyaLlahu ‘anhu, dari bapaknya, beliau berkata:

رأيت النبي صلّى الله عليه وسلّم، يمسح على عمامته وخفَّيه

“Aku pernah melihat Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas sorbannya dan kedua khufnya.” (HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari dan lainnya).

Sebagian ulama membolehkan mengusap permukaan jilbab atau sorban saja. Tetapi sebagian ulama lain berpendapat bahwa harus mengusap (مَسْحِ) ubun-ubun. Bukan membasuh. Sesudah itu barulah mengusap permukaan jilbab atau sorban maupun kopyah.

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyaLlahu ‘anhu:

أن النبي صلّى الله عليه وسلّم، توضأ، ومسح بناصيته وعلى العمامة وعلى خفيه

“Bahwa Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu mengusap ubun-ubunnya, sorbannya, dan juga khufnya.” (HR. Muslim).

Maka sebagai kehati-hatian, kita dapat memilih pendapat yang terakhir, yakni mengusap ubun-ubun, kemudian mengusap permukaan sorban atau jilbab.

——————-
Ini semua merupakan kemudahan. Terlebih bagi perempuan saat umrah. Insya Allah team Jejak Imani akan menunjukkan memandu dengan senang hati jika ada yang mau membeli khuf.

About The Author
daunjatuh

You must log in to post a comment