ANALISA
Now Reading
Inilah Sikap Politik Para Imam Madzhab terhadap Penguasa

Inilah Sikap Politik Para Imam Madzhab terhadap Penguasa

by daunjatuhJanuari 15, 2018

DAUNJATUH.COM – Dalam buku “Biografi Imam Syafi’i: Untold Story, Imam Syafi’i & Kitab-Kitabnya” (2016: 1-2), Ahmad Baihaqi menyebut dengan cukup lugas bagaimana sikap politik Imam Empat Madzhab, khususnya interaksi mereka dengan penguasa. Pada galibnya, mereka adalah sosok yang menjaga jarak dari penguasa.

Imam Abu Hanifah (80-150 H/ 699-767) misalnya, beliau adalah sosok ulama yang tidak mau dekat-dekat dengan politik dan penguasa. Beberapa kali ditawari jabatan mentereng sebagai seorang ‘Qâdhi’ (hakim), namun oleh pengasas Madzhab Hanafi ini ditolak mentah-mentah. Akhirnya, sikap tegas dan konsistennya mengantarkannya ke jeruji besi.

Dr. Muchlis Hanafi dalam Serial “Biografi Lima Madzhab” (2013: 59-64) ketika membahas hubungan Imam Abi Hanifah, memberikan dua contoh yang menunjukkan ketegaran Guru Abu Yusuf ini, ketika diuji oleh penguasa lantaran tak mau menerima jabatan. Tak tanggung-tanggung, beliau mengalami cobaan ini dalam dua era dinasti sekaligus.

Pada era Dinasti Umawiyah, tepatnya ketika Marwan bin Muhammad menjadi penguasa. Imam Abu Hanifah ditawari jabatan hakim, namun beliau bersikukuh untuk menolaknya. Akibatnya, di daerah bernama Al-Kinasah, beliau dicambuk seratus kali. Bahkan sebelumnya, ketika Sang Imam menampik tawaran Ibnu Hubairah menjadi pengurus Baitul Mal, akhirnya beliau pun dicambuk.

Pada era Dinasti Abbasiyah pun kejadian itu terulang kembali. Ketika Abu Ja’far Al-Manshur menawarinya sebagai hakim, lagi-lagi dengan tegas beliau menolaknya. Tak pelak lagi, jawabannya membuat Abu Ja’far Al-Manshur naik pitam sehingga menjebloskannya ke penjara. Menariknya, semua itu dihadapi dengan tabah dan tegar oleh Imam Abu Hanifah.

Lain lagi dengan Imam Malik (93-179 H/711-795 M). Beliau dikenal memiliki kedekatan dengan penguasa bahkan sempat menerima hadiah dari mereka. Hanya saja, yang menjadi catatan penting, Imam Pengasas Madzhab Maliki ini bukanlah ulama penjilat. Interaksi beliau dengan penguasa tetap pada koridor syariat yang jelas, bukan karena ingin mengeruk harta. Beliau juga bersikap obyektif dan konsisten terhadap kebenaran yang diyakininya sehingga tidak menjadi jongos penguasa.

Meski demikian, bukan berarti ulama yang dikenal dengan buku ‘Al-Muwaththa’-nya ini, tak pernah kontra dengan penguasa. Wahid Abdussalam Bâli dalam buku “Ulamâ wa Umarâ`” (1410: 181) menceritakan konflik Imam Malik dengan penguasa. Alkisah, Ja’far bin Sulaiman –sepupu Abu Ja’far Al-Manshur- berniat buruk kepada Imam Malik. Dituduhkan rumor bahwa beliau tidak mengakui kepemimpinan Ja’far Al-Manshur. Mendengar berita itu, kuping Abu Ja’far panas, lalu memerintahkan kepada tentaranya untuk mencabuk beliau.

Sungguh ironis, cambukan ini sampai membuat tulang pundak beliau lepas. Imam Ibnu Jauzi menyebut dalam buku “Syudzûr al-‘Uqûd” bahwa beliau dicambuk sebanyak tujuh puluh kali akibat mengeluarkan fatwa yang berlawanan dengan kepentingan penguasa di zamannya.

Adapun Imam Syafi’i (150-204 H/767-820 H) adalah sosok ulama yang berusaha sedapat mungkin untuk tidak dekat-dekat dengan penguasa. Pentaksis Madzhab Syafi’i ini berpandangan bahwa Ali bin Abi Thalib berada pada pihak yang benar. Sikapnya yang begitu memegang prinsip ini pada akhirnya mengantarkan beliau pada fitnah keji.

Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, Imam Syafi`i dituduh sebagai pendukung Syi`ah oleh pendengkinya, Mutharrif bin Mâzin. Bahkan dia memprovokasi Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk menangkap Syafi`i dan orang-orang ‘alawiyin (Ahli Bait yang dituduh sebagai pemberontak). Diutuslah Hammad al-Barbari untuk menangkap Imam Syafi`i dan orang-orang alawiyin. Ia dirantai dengan besi bersama orang alawiyin dari Yaman hingga Raqqah, kediaman Harun Ar-Rasyid (Adz-Dzahabi, 1405: 10/86). Bayangkan, betapa sengsaranya dirantai dengan besi dari Yaman hingga Baghdad.

Murid belia pun –Imam Ahmad (164-241 H/ 780-855 M) – juga memiliki sikap yang tegas terhadap penguasa. Beliau tidak pernah mendekati penguasa, teguh dalam memegang prinsip, dan bukan ulama yang gampang disuap. Karenanya, tidak ada satu pun riwayat yang menjelaskan bahwa penulis kitab hadits berjudul ‘Musnad’ ini pernah mendapat hadiah dari penguasa.

Cerita yang populer justru beliau mendapat perlakuan buruk dari penguasa akibat keteguhan pendapatnya. Kabarnyam, beliau pernah dicambuk, bahkan dipenjara selama 30 bulan oleh Ma`mun gara-gara tidak mengakui al-Qur`an sebagai makhluk sebagaimana yang diyakini sekte Mu`tazilah yang disokong dan diyakini penguasa saat itu. Keteguhannya memegang prinsip membuat beliau mendekam di sel tahanan (Ibnu Atsir, 1417: 5/576)

Setelah membaca secara singkat pengalaman Imam Empat Madzhab secara politik dengan penguasa, maka bisa dipahami secara jelas bahwa secara umum mereka menjaga jarak dari penguasa dan di garda depan dalam menyampaikan kebenaran. Kalaupun ada yang pernah menerima hadiah ataupun berinteraksi dengan penguasa –seperti Imam Malik-, maka itu tetap dalam koridor syariat yang ketat, bukan karena ingin menggapai maslahat (kepentingan ) sesaat.

Dengan demikian, alangkah indahnya jika ulama-ulama zaman sekarang meneladani sikap dan teladan mereka. Terlebih, sebentar lagi akan diadakan pemilihan kepala daerah secara serempak kemudian tahun depan disusul dengan Pilpres (Pemilihan Presiden) Indonesia. Akan ada ‘kontes mendadak religius’, politisasi simbol Islam, serta menjadikan umat Islam sebagai pendorong mobil mogok.

Jika tidak hati-hati dalam bersikap, dikhawatirkan ulama tidak bisa selamat dari fitnah penguasa dan akan terjerumus pada jebakannya; yang pada gilirannya akan merusak marwah diri dan menodai agamanya karena kepentingan dunia semata. Tidak mengherankan jikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

وَمَنْ أَتَى أَبْوَابَ السُّلْطَانِ افْتَتَنَ

“Barangsiapa yang mendatangi pintu-pintu Sultan (penguasa), maka dia akan terkena fitnah dan godaan.” (HR. Tirmidzi, Ahmad) Semoga ulama-ulama kita terlindungi dari fitnah penguasa.*

Mahmud Budi Setiawan – Hidcom

About The Author
daunjatuh

You must log in to post a comment