Menengok Pasar Tsukiji yang Jadi Referensi Sandi Menata Pasar Ikan di Jakarta

DAUNJATUH.COM – Saat mengunjungi pasar pelelangan ikan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Wakil Gubernur Sandiaga Uno sempat melontarkan keinginannya untuk merombak pasar yang sudah berdiri sejak 1960-an tersebut menjadi seperti Pasar Ikan Tsukiji di Jepang.

Namun, seperti apakah Pasar Ikan Tsukiji yang dijadikan referensi penataan pasar ikan di Ibu Kota tersebut?

Pasar Ikan Tsukiji merupakan pusat penjualan ikan, buah dan sayur-sayuran terbesar yang terletak di pusat Tokyo, Jepang, tepatnya di distrik Kota Chūō. Tidak hanya di Jepang, Pasar Ikan Tsukiji juga dikenal sebagai pasar ikan terbesar di dunia yang memproduksi 2.000 ton produk laut setiap harinya.

Tempatnya memang begitu bersih dan rapi, jauh dari kesan pasar ikan yang biasanya ditemukan di Indonesia. Aktivitas sibuk para pedagang yang memamerkan skill membersihkan dan memotong ikan, atau sekadar menawarkan ikan-ikan segarnya, menjadi pemandangan yang menarik perhatian turis untuk berkunjung.

Bagaimana tidak, ada sekitar 14 ribu pekerja di Pasar Ikan Tsukiji yang siap melayani lebih dari 28 ribu pembeli setiap harinya. Bahkan, dalam satu hari tercatat ada 19 ribu kendaraan yang keluar-masuk di pasar yang memiliki sejarah panjang di Jepang ini.

Namun Pasar Ikan Tsukiji dulunya bukanlah pasar. Dilihat dari sejarahnya, pada tahun 1657, kebakaran besar Meireki yang menewaskan 107 ribu nyawa di Edo –Tokyo dulu– membuat keshogunan Tokugawa memutuskan untuk mengisi daerah pesisir Edo. Tanah yang direklamasi tersebut, diberi nama Tsuki-ji (築・地) yang berarti tanah yang dibangun.

Tempat tersebut, awalnya hanya digunakan sebagai rumah bagi keluarga para samurai dan sebuah kuil yang diberi nama Namiyoke Inari Jinja (pelindung dari gelombang). Namun, gempa bumi besar di wilayah Kanto pada tahun 1923 menghancurkan nyaris seluruh pusat Tokyo, termasuk Pasar Ikan Nihonbashi. Pasar ikan tersebut, kemudian dipindahkan ke Tsukiji pada tahun 1935 dan menjadi salah satu destinasi wisata hingga saat ini.

Berkeliling di area grosir di Tsukiji, sebuah aula besar menjadi tempat ratusan kios kecil saling bersaing menjajakan dagangannya. Aktivitas pasar, lengkap dengan gerobak dan truk yang lalu lalang, rupanya menarik para wisatawan untuk mengabadikannya dalam foto.

Akibatnya, untuk mencegah kecelakaan dan gangguan saat proses jual-beli, Tsukiji menerapkan aturan yang melarang wisatawan memasuki area grosir sebelum jam 10 pagi dan saat puncak jual-beli berlangsung. Tidak hanya itu, pengunjung yang masuk ke area ini dilarang membawa barang bawaan mereka.*

Sumber : Kumparan

Tinggalkan Balasan