Hal-hal lucu yang tidak lucu

@TereLiye

DAUNJATUH.COM – Saya menemukan hal-hal lucu yang tidak lucu, betapa ajaibnya tanggapan manusia saat datang sebuah nasehat. Agar tulisan ini menjadi komprehensif, maka akan saya daftar hal-hal lucu yang tidak lucu tersebut.

1. Ketika datang nasehat, mereka berkata: “Urus saja urusan masing-masing. Sepanjang saya tidak mengganggu orang lain, kenapa Anda harus terganggu?”

Ini lucu tapi tidak lucu, karena hampir setiap manusia yang mengaku muslim tahu surah pendek yang penting sekali. Impossible jika mereka bilang tidak tahu, karena surah ini masuk dalam surah yang bahkan diajarkan saat TK, SD, usia kanak-kanak. Yaitu surat Al ‘Ashr: (I) Wal Asri (II) Innal Insan nalafi khusr, (III) ilallazi na’amanu wa’amilus sallehati, Watawa saubil haq watawa saubil sabr.

Tahu, kan? Apa terjemahan surah itu? Here we go: (I) Demi masa, (II) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (III) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Jelas sudah, surah ini bilang manusia itu dalam posisi default rugi. Saya, anda, kita semua dalam posisi rugi. Kecuali yang melakukan tiga hal: beriman, mengerjakan amal saleh, dan saling menasehati. Maka, orang-orang yang bilang urus saja urusan masing-masing, jelas sekali tidak paham agamanya. Apalagi sampai menantang, saya tidak mengganggu Anda, kenapa Anda harus merasa terganggu. Kalimat ini muncul karena keras kepala, hitam hatinya, tersinggung, reaksinya cuma lawan!

2. Ketika datang nasehat, mereka berkata: “Jangan sok suci.”

Ingat baik-baik, jika urusan saling menasehati harus menunggu semua orang suci dulu, maka bubar kehidupan ini. Ini juga favorit sekali reaksi orang-orang yang ogah dinasehati.

Hei, kalaupun seseorang itu tidak suci, maka bukan berarti kewajiban untuk menasehati jadi gugur. Adalah jalan menuju kebaikan ketika seseorang rajin mengingatkan, menasehati, secara terus menerus, hingga akhirnya perbuatan maksiat, dosa yang dia lakukan menjadi berangsur-angsur berkurang. Ada banyak nasehat ulama besar atas hal ini, silahkan dibaca buku2 mereka. Betapa indah nasehat tersebut.

3. Ketika datang nasehat, mereka berkata: “Memangnya lu sudah melakukan apa yg lu bilang.”

Bukan urusan kita menilai hal ini. Itu urusan Tuhan. Jelas bahwa: besar sekali kebencian Tuhan atas orang-orang yang tidak melakukan apa yang dia katakan. Tapi itu bukan urusan kita. Jika setiap kali nasehat datang, kita sibuk bertanya hal ini, memang lu sudah? Maka rusaklah keseimbangan dalam masyarakat. Kalaupun kita tahu seseorang itu memang munafik pol, pendusta maksimal, hanya pencitraan saja nasehatnya, jangan diserang dengan kalimat tersebut, didiamkan saja, jika memang tidak tahan lagi, lakukan secara personal dan langsung. Ini kadang mengenaskan sekali, masa’ kita bertengkar ditonton banyak orang. Membuat orang lupa substansi nasehatnya.

4. Ketika datang nasehat, mereka berkata: “Bisa nggak sih dakwahnya lebih santun.”

Tidak ada nasehat baik yang keliru. Semua nasehat itu baik. Yang salah itu orang2 yang tidak memberikan nasehat. Ketika kita kehilangan argumen secara substansif untuk ngeles, kehabisan argumen berdasarkan dalil untuk membantah sebuah nasehat, maka jangan pernah justeru menyerang sisi elementernya–bilang nasehatnya kasar.

Menyenangkan memang melakukannya, karena memberi kepuasan temporer di hati, tapi itu dusta hati yang kotor, tapi, tapi, tapi, itu semua kulit bawang halus yang kita ciptakan untuk membentengi kesalahan. Dan hal ini amat kontraproduktif, bayangkan, kita menyerang langsung secara terbuka ditonton banyak orang. Maka orang-orang lebih asyik menonton, bukan mendengarkan substansi nasehat. Saya menyarankan semua orang rajin membaca terjemahan Al Qur’an, membaca hadist, boleh jadi, kalian akan paham betapa banyaknya peringatan yang disampaikan dengan keras, perumpamaan yang sangat menohok hati (manusia disamakan dengan binatang ternak), dsbgnya.

5. Ketika datang nasehat, mereka berkata: “Lantas lu siapa yang menasehati? Lu nggak suka pro kontra? Nggak suka dibantah?”

My dear anggota page, enyahkanlah ilusi itu. Emosi sesaat yang muncul karena kita menolak sesuatu masuk. Jangan pernah jadikan itu alasan untuk menyimpulkan sesuatu yang boleh jadi tidak benar, hanya prasangka kita saja. Kita kenal juga nggak dengan orang yang memberikan nasehat. Menurut orang banyak, justeru sebaliknya, bisa melihat dengan lebih kristal, kalau orang yang memberikan nasehat terbuka atas saling menasehati, terbuka atas pro dan kontra, dan jelas membiarkan orang lain membantah. Menurut ego kita saja yang tidak.

6. Ketika datang nasehat, mereka berseru: “Lu saja yang ngiri kayaknya!”

Ampun dah, generasi jaman now suka sekali bilang ini jika datang nasihat jangan pamer. Dikit2 bilang lu yang ngiri. Dia lupa, siapa sih yang akan ngiri dengan kualitas kehidupannya? Apa prestasi hidupnya yang akan membuat orang lain iri? Kelam hatinya, gelap nuraninya, maka dia tenggelam dalam pemahaman sendiri, tidak tahu lagi mana kehidupan yang damai dan tenteram, mana kehidupan yang terlihat seolah megah, populer, hebat tapi kosong melompong jiwanya.

Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah nasehat menawan hati, yang saya temukan dari film: bahwa berbuat baik, termasuk di dalamnya saling menasehati adalah tanggung-jawab (responsibility). Tidak pernah menjadi pilihan (choice).

Nah, peradaban manusia bisa bertahan ratusan karena masih ada yang mengambil tanggung-jawab tersebut, jika tidak, maka dia akan hancur binasa oleh tangan manusia sendiri, atau digulung oleh azab Tuhan. Bacalah sejarah2 peradaban lama. Dan pastikan bahwa nasehat itu ada dua kaki: Amar ma’ruf, nahi munkar. Menyeru kepada kebaikan, itu sudah banyak, tapi yang mencegah kemungkaran, berdiri gagah mengingatkan hal2 mungkar, kita semua dibebani kewajiban tersebut.

–Tere Liye

Tinggalkan Balasan