Tentara Cyber, Perang Info dan Berita Palsu Menambah Derita Suriah

DAUNJATUH.COM – Perang informasi yang akut yang dilancarkan sepanjang pertempuran bersenjata di Suriah mempengaruhi upaya untuk membantu korban konflik, kata seorang pejabat kemanusiaan senior. Demikian laporan The Sydney Morning Herald, Senin (06/11/2017).

Pawel Krzysiek, juru bicara International Committee of the Red Cross (Komite Palang Merah Internasional/ICRC) di Suriah, mengatakan ada atmosfir “kekacauan informasi” yang disebabkan adanya penyebaran informasi yang tidak benar yang saling bertentangan untuk mendiskreditkan satu sama lain dengan menggunakan media sosial dan saluran digital.

“Perang ini sedang berlangsung sangat keras di dunia maya – kelompok bersenjata yang sederhana juga memiliki tentara cyber,” katanya. “Ada berbagai sumber daya yang menguatkan agenda mereka sendiri.”

Krzysiek, penutur Bahasa Arab yang telah menetap di Suriah sejak 2015, mengatakan para pejuang-cyber Suriah secara teratur “meng-hack satu sama lain” dan terus-menerus “mengedarkan berita” dalam upaya untuk mengkonter informasi yang disebarluaskan oleh lawan-lawan mereka.

Hasilnya adalah berupa aliran berita palsu yang membuat kita sulit untuk mendapatkan informasi yang dapat dipercaya tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam Suriah.

“Ada proliferasi milisi-milisi dan kelompok-kelompok bersenjata yang mengendalikan wilayah-wilayah – yang mana ini benar-benar kacau dan ini semua tercermin dalam dunia media,” katanya.

Informasi yang tidak benar memiliki efek pada operasi kemanusiaan penyelamatan jiwa di Suriah.

“Ini membuat respon kemanusiaan jadi sangat rumit,” kata Krzysiek.

Konvoi-konvoi bantuan di Suriah yang membawa barang-barang untuk keadaan darurat sekarang secara rutin “disiarkan langsung” oleh para pengawas lokal dengan menggunakan platform media sosial seperti Facebook.

“Di zaman ini dengan citizen journalist (jurnalisme warga) konvoi Anda disiarkan segera secara real time… orang-orang yang ada di pos pemeriksaan mensyuting Anda. Yang mereka butuhkan adalah smartphone.”

Badan-badan bantuan kemanusiaan tidak memiliki kontrol atas jenis informasi yang disajikan oleh mereka yang menyebarkan gambar.

Krzysiek mengatakan hal ini menyulitkan organisasi kemanusiaan untuk memberi masyarakat setempat informasi yang dapat dipercaya tentang tujuan operasi mereka.

“Ini adalah tantangan besar pada saat ini,” katanya. “Risikonya sangat tinggi.”

Ada kecaman internasional atas pemboman konvoi PBB 31 truk yang membawa makanan, obat-obatan dan perlengkapan yang menuju area-area yang dikuasai pemberontak di Provinsi Aleppo pada bulan September tahun lalu.

Seorang pekerja sosial di Bulan Sabit Merah Arab Suriah merupakan salah satu dari 20 orang yang tewas dalam serangan itu.

“Krisis Suriah benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal jumlah pekerja kemanusiaan yang meninggal ketika bertugas,” kata Krzysiek.

Setidaknya 65 relawan Bulan Sabit Merah Arab Suriah telah tewas selama enam tahun perang saudara Suriah.

Pawel Krzysiek telah melintasi beberapa batas kota di Suriah berkali-kali, termasuk kota Madaya yang terkepung ketika konvoi bantuan berhasil masuk ke kota itu demi membantu rakyat yang kelaparan pada awal 2016.

Krzysiek telah menjadi keynote speaker yang menyampaikan tentang gambaran media atas konflik Suriah di Simposium Hukum Humaniter Internasional dan Jurnalisme Palang Merah Australia di Universitas Sydney pada hari Kamis, 2 November.

Krzysiek mengatakan kondisi berbahaya di Suriah ditambah dengan tantangan verifikasi sumber-sumber informasi telah menyulitkan para wartawan yang bekerja untuk organisasi-organisasi media mainstream untuk melaporkan peristiwa di Suriah secara akurat.

“Ini adalah permainan yang sangat sulit bagi wartawan yang meliputi konflik Suriah pada saat ini,” katanya.

Palang Merah sering memainkan peran sebagai “kantor berita kemanusiaan” karena bagi wartawan cara itulah yang telah bisa dilakukan untuk memverifikasi fakta,” katanya.*

Sumber : Hidcom

Tinggalkan Balasan