Swiss Kecil Itu Bernama Kota Batu

DAUNJATUH.COM – Diapit deretan pegunungan membuat iklim Kota Batu menarik wisatawan untuk berlibur.

Jika Anda menyusuri jalan Panglima Sudirman di Kota Batu menuju Pujon atau dari arah sebaliknya, ada sebuah kompleks bangunan megah mencolok bergaya arsitektur Art Deco.

Bangunan itu kini dikenal bernama Hotel Kartika Wijaya. Dulu, sebagaimana diingat beberapa sepuh setempat, bangunan itu bernama Jambe Dawe. Pada masa kolonial, bangunan ini difungsikan sebagai gedung, pernah juga dijadikan rumah sakit dan bagian dari tangsi serdadu. Kedatangan Jepang membuatnya jadi gudang senjata. Militer Indonesia pernah menggunakannya sebagai dapur umur. Terakhir hingga kini, Jambe Dawe adalah hotel.

Keluarga Sarkies yang berasal dari Armenia mendirikan bangunan ini pada tahun 1891 sebagai vila tempat peristirahatan untuk keluarga Sarkies.

Selain mendirikan hotel di Malaysia dan Singapura, Hotel Majapahit (dulunya Hotel Oranje, kemudian Hotel Yamato) di Surabaya yang bersejarah itu juga didirikan dan dikelola oleh Sarkies bersaudara pada zamannya. Semuanya masih berfungsi dan lestari.

Beralih menapaki jalan Bukit Berbunga menuju arah ke Cangar, Gunung Arjuno dan titik nol sungai Brantas, deretan bangunan kokoh bergaya Indisch khas kolonial Belanda. Sebagian besar memang samar tertutupi pagar dan barisan kios para tanaman hias. Hanya beberapa saja yang tampak terbuka dan terlihat langsung dari jalan raya.

Nomor info sewa vila terpacak di bagian luar pagar menandakan bangunan-bangunan lawas itu masih berfungsi sebagai vila sewaan.

Banyaknya vila dan resort yang didirikan di daerah Batu menandakan bahwa wilayah berhawa sejuk dalam apitan bentang alam pegunungan ini telah menjadi titik favorit bagi para orang Eropa tetirah. Tidak berlebihan bila tuan dan nyonya Londo menjulukinya De Kleine Zwitserland alias Swiss kecil.

Seiring berjalannya waktu, Batu terus berkembang. Yang paling mencolok adalah perubahan status dari yang semula bagian dari kecamatan di bawah Kabupaten Malang menjadi Kota Pemerintahan Batu.

Mulanya pada tahun 1993, Kecamatan Batu mulai ditingkatkan statusnya menjadi Kota Administratif (Kotatif) pada 27 April 1993. Seiring waktu, Kotatif Batu terus menunjukkan peningkatan tiap tahunnya dan menunjukkan wajahnya seperti daerah perkotaan. Terlebih, Kotatif Batu juga ditunjang sarana dan prasarana perkotaan seperti PDAM, PLN, Jalan raya, Telekomunikasi, Hotel Berbintang, vila, bank, pasar maupun swalayan, terminal, sarana kesehatan, fasilitas pendidikan dan lain sebagainya.

Melihat perkembangan pesat ini, Bupati Malang Abdul Hamid memunculkan gagasan untuk meningkatkan status Kotatif Batu menjadi Pemkot. Hamid menyurati Gubernur Jawa Timur pada 11 April 1995 mengenai peningkatan status Kota Batu dari kota administratif menjadi kotamadya.

Pada 2 Desember 1996, Basofi Sudirman, Gubernur Jawa Timur saat itu, menandatangani surat yang ditujukan kepada Menteri Dalam Negeri tentang usulan peningkatan status kota Batu. Usulan tersebut didasari beberapa pertimbangan yang menyangkut aspek teknis, strategis, administratif, dan sosiologis.

Sejak itulah sederet persiapan administratif, surat-menyurat antar instansi pemerintahan daerah dan pusat, juga audiensi dengan masyarakat Batu terus berjalan. Sampai akhirnya Presiden Indonesia Aburrahman Wahid pada tanggal 21 Juni 2001 menandatangani Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Batu.

Hingga 17 Oktober 2001, secara resmi Kotatif Batu ditingkatkan statusnya menjadi Pemerintah Kota, berpisah dari Kabupaten Malang. Kota Batu disepakati meliputi tiga kecamatan (Batu, Bumiaji dan Junrejo) serta 19 Desa dan Kelurahan.

Kontur tanah dan iklim Kota Batu sangat menunjang aktivitas pertanian. Mayoritas penduduk Kota Batu secara turun-temurun sejak masa kolonial juga berprofesi sebagai petani dan pekerja kebun.

Menurut penelitian Imron Hanas & Nurhadi Sasmita berjudul “The Effort in Tourism Developing to Build the City: Batu City, 2001-2012,” wilayah Batu pernah terkenal dengan hasil produksi pertanian berupa Jeruk. Daerah Punten sempat terkenal sebagai produsen Jeruk Punten pada 1925an. Sekitar tahun 1950an, produksi jeruk Punten menurun drastis karena serangan hama.

Pudarnya budidaya jeruk membuat budidaya tanam apel berjaya. Apel sendiri diketahui telah dibudidayakan di Batu sejak tahun 1930an oleh orang Belanda bernama Tuan Pegtel dengan bantuan warga lokal bernama Kanda, dan baru berkembang luas pada tahun 1950 seiring redupnya produksi jeruk. Petani Batu yang awalnya mengandalkan padi dan sayur, khususnya di daerah utara Brantas, mulai mengembangkan apel pada 1970-an.

Beberapa varietas apel yang dikembangkan di Batu antara lain rome beauty, manalagi, ana, wangling dan lainnya. Karena popularitas apel inilah Batu dan Kota Malang dikenal sebagai ‘Kota Apel’. Apel pun kini jadi maskot daerah.

Tetapi apel Batu tidak bertahan lama. Tanaman yang bisa tumbuh subur dan pesat di hawa dingin ini harus menghadapi peningkatan suhu karena pertambahan penduduk dan kendaraan bermotor. Sejak tahun 1980an, apel Batu bukan lagi produk unggulan. Terlebih faktor serangan hama juga mempengaruhi tingkat produksi apel.

Faktor lainnya yang menambah kematian produksi apel di Batu adalah keran impor apel dari Amerika, Australia dan New Zealand. Sederet permasalahan kompleks ini mendorong para petani di Batu dan mulai memikirkan alternatif tanaman lain yang lebih menguntungkan.

Saat ini, budidaya tanaman hias dan bunga menjadi salah satu andalan komoditas pertanian Batu. Mawar Batu adalah produk terbaik yang laku keras di Jakarta, Bali, Surabaya dan Semarang. Hingga triwulan pertama 2016 saja, BPS mencatat produksi bunga mawar mencapai sejuta tangkai lebih, dibandingkan jenis bunga lain yang hanya berkisar ribuan hingga ratusan ribu tangkai.

Tanaman sayuran seperti wortel, cabai, kentang, kubis, sawi kacang-kacangan, bawang merah dan putih hingga jamur turut menjadi komoditas tani Kota Batu. Iklim dan kesuburan tanahnya cocok untuk budidaya aneka tanaman tersebut.

Selain menjadi kota agropolitan. Wajah Kota Batu masa kini juga dijejali oleh bermacam wahana wisata buatan. Berdirinya Kota Batu juga dibarengi dengan dibangunnya wahana wisata buatan bernama Jawa Timur Park 1 pada 2001 silam.

Sejak itu, khususnya di era kepemimpinan Eddy Rumpoko, ekspansi bisnis pariwisata Jatim Park Group makin luas dengan mendirikan berbagai macam wahana wisata seperti Batu Night Spectaculer (BNS) pada 2008, Museum Satwa Jatim Park 2, Eco Green Park tahun 2010 hingga Jatim Park 3 yang pembangunannya kini tengah dikebut.

Taman rekreasi Selecta yang dibangun di daerah Tulungrejo di kaki Gunung Arjuno oleh orang Belanda bernama De Ruyter De Wildt pada 1930 dianggap sebagai ikon gerbang pariwisata Batu sejak era kolonial. Pembangunan Selecta oleh De Wildt juga didorong keinginan mencari tempat rekreasi yang suhunya mirip Eropa.

Kini Kota Batu identik dengan sebuah kota pariwisata. Sejak Eddy Rumpoko yang berlatarbelakang pengusaha memenangi pemilihan walikota 2007 dan 2012, ia terus mendekati investor. Para koleganya sebagai pengusaha kontraktor diajak menanamkan investasi di sektor pariwisata.

Jumlah hotel yang didirikan sejak 2006 hingga 2016 terus menunjukkan peningkatan dari 361 menjadi 552 hotel dengan jumlah kamar mencapai angka 6.183.

Pembangunan dan keran investasi ini tak jarang harus berhadapan dengan kepentingan warga. Salah satunya saat pembangunan Hotel The Rayja di dekat area sumber air Gemulo yang mulai panas sejak tahun 2012.

Warga sekitar yang mengandalkan mata air tersebut untuk bertani dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, turun ke jalan menuntut agar aktivitas pembangunan dihentikan. Meski hingga saat ini aktivitas pembangunan belum terlihat kembali, tetapi tuntutan warga untuk mencabut IMB tak kunjung dikabulkan oleh Walikota Batu.

WALHI Jawa Timur menyoroti soal hilangnya beberapa sumber mata air di Kota Batu yang disebabkan oleh industri pariwisata. Dari data awal yang menunjukkan 11 sumber mata air, kini hanya tersisa sekitar 58 titik sumber mata air saja.

Desember nanti, giliran Dewanti Rumpoko resmi menjabat walikota Batu, menggantikan sang suami, Eddy Rumpoko, yang telah 10 tahun berkuasa.*

Tony Firman – Tirto

Tinggalkan Balasan