Menelusuri Perjalanan Kafilah Haji dari Mesir Menuju Makkah Masa Lalu

DAUNJATUH.COM – Melalui catatan perjalanan (rihlah) pelancong Ibnu Hawqal terdapat gambaran seperti apa jalur jalan para jamaah haji dari Mesir ke tanah suci (Madinah dan Makkah) di massa lalu. Perjalanan ini kebanyakan ditempuh melalui jalur jalan pesisir serta panjangnya terbagi dalam dua puluh tahapan. Di tengah jalan nantinya para jamaah haji yang berangkat dari Mesir akan bertemu para jamaah haji dengan asal Suriah di Aiyla.

Pada saat itu, lazimnya orang-orang Maroko akan menemani perjalanan haji orang-orang Mesir. Orang-orang dari Palestina akan melewati Median (Tabuk) di dua jalan: satu melalui Al-Bid ‘dan Shaghab, sampai mereka mencapai Madinah.

Jalur kedua tetap sejajar dengan pantai sampai mencapai Al-Juhfa ysng nsntinys ketika sampai di Damaskur sksn bertemu dengan para jamaah haji yang berasal dari orang-orang dari Irak.

Seorang jamaah haji Hakim Wakea misalnya telah mencatat berbagai tahapan jalan dari para jamaah haji asal Mesir untuk sampai ke tanag suci. Menurutnya, para peziarah atau jamaah haji ini akan melewati wilayah Al-Fusttat, Al-Jub, Al-Hafer, Al-Buwaib, Manzel um Saad, Ajroud, Al-Qalzam, Kursi, Al-Hafer, Nakhal, Aiyla (di dekat Damaskurs).

Setelah itu berbelok menuju ke jalan pesisir melaui jalan darat dari Aiyla ke Sharaf Al Baal, Madien, Falis, Al-Aghar, Al-Kilabiyah, Al-Bedea, Shaghab, As-Sarhtain, Al-Suqiya.

Sesampai di Al-Suqiya, perjalanan akan menyusuri jalan pesisir: dari Ayla, Ainona, Al-Mussala, Al-Nabak, Dhuba, Al-Murrah, Uwainid, Al-Wajh, Mankhus, Al-Hora (Umluj), Qussaiba, Al-Buhra, Yanbu, Al-Jar, dan sampai ke arah Madinah.

Jalur Haji Mesir di Masa Abad Pertengahan/Umayah

Ketika pemerintah pusat Umayyah melemah, jalan darat dihentikan karena takut serangan orang-orang Arab, sementara jalan pesisir tetap ada. Jalur pantai menjadi pilihan para pengorganisir perjalanan haji. Para peziarah yang berasal dari orang kaya di era Mamluk pada abad ke 9 dan ke 10 memilih jalur ini. Bahkan jalur ini tetapramai hingga abad ke 14 dan 15 Masehi.

Ibnu Fadlallah pun mengidentifikasi tahap-tahap jalur ziarah Mesir yang berasal dari rute pedagang dan peziarah haji semenjak abad ke 7 abad ke-12 SM.

Rinciannya, setelah ke luar dari Kairo peziarah akan berkemah di Al-Birkah. Mereka tinggal di sana selama tiga sampai empat hari. Kemudian mereka melakukan perjalanan Ke Suez dalam lima tahap, kemudian ke Nakhal dalam lima tahap, dan kemudian pergi ke Aiyla dalam lima tahap dan di dalamnya mellau jalur utama Aqaba.

Semenjak saat itu perjalanan dilanjutkan menuju tepian atau pesisir laut Merah. Di situ mereka kemudian berkemah selama empat atau lima hari. Tempat ini menyenangkan karena ada pasar yang bagus dengan banyak toko. Kemudian mereka pergi ke Haqel dalam satu tahap, lalu ke pantai Midian dalam empat tahap, dan singgah di kawasan yang ada di dekat gua Sho’aib (Yitro).

Sesampai di sana perjalanan kemudian ke Uyoun Al-Qassab dalam dua tahap, lalu ke Al-Mwaileh dalam tiga tahap, dan kemudian ke Al-Azlam (Al-Aznam) dalam empat tahap. Tahapan ini adalah jalur yang sangat berat karena ketersediaan air adalah yang terburuk.

Lolos dari Al-Aznam, maka perjalanan diarahkan menuju Al-Wajh di mana jalur ini terbagi dalam lima tahap. Di sini pasokan air cukup lumayan. Setelah itu menuju jalur jalan ke Akra yang terbagi dalam dua tahap di pasokan air kembali sulit. Dari wiayah itu perjalanan kemudian mengarah ke Al-Hora, yang berada di pantai Laut Merah. Jalur ini terbagi dalam dalam empat tahap di mana banyak ditemukan air minum yang sedikit mengandung garam (payau).

Lepas dari Al-Hora perjalanan kemudian berlanjut ke arah wilayah Nabt yang terbagi dalam dua tahap dengan persedian air minum yang menipis Setelah itu kemudian ke Yanbu yang jalurnya terbagi dalam lima tahap dan bisa ditempuh dalam waktu tiga hari. Lalu ke Al-Dahna dalam satu tahap, lalu ke Bader dalam tiga tahap, dan kemudian ke Rabigh dalam lima tahap, yang diikuti oleh Al-Juhfa Meeqat, lalu ke Khulais dalam tiga tahap, lalu masuk ke Baten dalam tiga tahap.

Di jalur-jalur tersebut perjalanan semula sangat berat, sedikit terasa ringan karena pasokan air kembali lumayan setelah rombonga peziarah sampai ke wilayah Asfan di mana tersedia banyak sumur untuk mengambil pasokan air minum.

Nah, setelah persediaan air tercukupi kembali, maka perjalanan diteruskan menuju Baten yang kemudian mengarah ke Makkah. Jalur ini bisa ditempuh dalam satu tahap saja.

Sumber : whc.unesco.org/ihram

Tinggalkan Balasan