INI PANDUAN HALAL LPPOM – MUI

A. PENGANTAR

Sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi pangan, status bahan yang dulu difatwakan halal, setelah ditemukan adanya hal-hal meragukan maka bisa menjadi berubah fatwanya. Oleh karena itu dalam bab ini disampaikan kedudukan ketetapan hukum dalam Islam agar dapat diterima mengapa hal tersebut dapat terjadi.

Untuk memberikan pemahaman tentang pengertian halal haram, dalam bab ini disampaikan pula dasar hukum dari Al Quran serta fatwa MUI terbaru tentang status bahan.

Kedudukan ketetapan hukum dalam Islam :

Al Qur’an: hukumnya bersifat tetap, dan sebagiannya masih bersifat
umum, sehingga memerlukan penjelasan lebih lanjut.

Al-Hadist: merupakan penjabaran aplikatif dari kaidah-kaidah Qur’aniyyah yang bersifat tetap, sekaligus juga penjelasan lebih lanjut terhadap kaidah-kaidah yang bersifat umum

Ijma Shahabat: merupakan kesepakatan para shabat Nabi saw dan ulama atas permasalahan yang terjadi, karena meluasnya wilayah da’wah serta perkembangan kehidupan sosial, dan tidak ada ketentuannya secara khusus di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Namun keputusan ijma’ itu tentu didasarkan pada pemahaman mereka atas Al-Qur’an maupun Al-Hadits.

Qiyas: merupakan metoda penentuan hukum secara analogi, yang diambil berdasarkan pada kasus yang telah ditentukan Al-Qur’an maupun Al-Hadits

Fatwa: adalah keputusan hukum agama yang dibuat dengan ijtihad (ulama), atas hal-hal yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits, berdasarkan pada kaidah-kaidah pengambilan dan penentuan hukum, seperti dengan metode qiyas atau ijma’.
B. PENGERTIAN HALAL DAN HARAM

1. Halal adalah boleh. Pada kasus makanan, kebanyakan makanan termasuk halal kecuali secara khusus disebutkan dalam Al Qur’an atau Hadits.

2. Haram adalah sesuatu yang Allah SWT melarang untuk dilakukan dengan larangan yang tegas. Setiap orang yang menentangnya akan berhadapan dengan siksaan Allah di akhirat. Bahkan terkadang juga terancam sanksi syariah di dunia ini.

C. PRINSIP-PRINSIP TENTANG HUKUM HALAL DAN HARAM

1. Pada dasarnya segala sesuatu halal hukumnya.
2. Penghalalan dan pengharaman hanyalah wewenang Allah SWT semata.
3. Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram termasuk perilaku syirik terhadap Allah SWT.
4. Sesuatu yang diharamkan karena ia buruk dan berbahaya.
5. Pada sesuatu yang halal sudah terdapat sesuatu yang dengannya tidak lagi membutuhkan yang haram.
6. Sesuatu yang mengantarkan kepada yang haram maka haram pula hukumnya.
7. Menyiasati yang haram, haram hukumnya.
8. Niat baik tidak menghapuskan hukum haram.
9. Hati-hati terhadap yang syubhat agar tidak jatuh ke dalam yang haram.
10.Sesuatu yang haram adalah haram untuk semua.

D. HALAL DAN HARAM BERDASARKAN AL QUR’AN

1. Al-Baqarah 168 : “ Hai sekalian umat manusia makanlah dari apa yang ada di bumi ini secara halal dan baik. Dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian”.

2. Al-Baqarah 172-173 : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kalian menyembah. Sesungguhnya Allah hanya

3. mengharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barang siapa dalam keadaan terpaksa, sedangkan ia tidak berkehendak dan tidak melampaui batas, maka tidaklah berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”.

4. Al-Anam 145 : “Katakanlah, saya tidak mendapat pada apa yang
diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi yang
memakannya, kecuali bangkai,

5. darah yang tercurah, daging babi karena ia kotor atau binatang yang
disembelih dengan atas nama selain Allah. Barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedangkan ia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidaklah berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”.

6. Al-Maidah 3 : “Diharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi, hewan yang disembelih dengan atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas kecuali yang kalian sempat menyembelihnya. Dan diharamkan pula bagi kalian binatang yang disembelih di sisi berhala”.

7. Al-Maidah 90-91 : “Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syetan itu hendak menimbulkan permusuhan dan perbencian di antara kalian lantaran meminum khamr dan berjudi dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat, maka apakah kalian berhenti dari mengerjakan pekerjaan itu.”

8. Al-Maidah 96 : “Dihalalkan untuk kalian binatang buruan laut dan makanannya”.

9. Al-A’raf 157 : “Dia menghalalkan kepada mereka segala yang baik dan
mengharamkan kepada mereka segala yang kotor”.

E. FATWA MUI UNTUK BEBERAPA BAHAN

1. Khamr

a. Segala sesuatu yang memabukkan dikategorikan sebagai khamr.
b. Minuman yang mengandung minimal 1 % ethanol, dikategorikan
sebagai khamr.
c. Minuman yang dikategorikan khamr adalah najis.
d. Minuman yang diproduksi dari proses fermentasi yang
mengandung kurang dari 1 % ethanol, tidak dikategorikan khamr
tetapi haram untuk dikonsumsi.

2. Ethanol

a. Ethanol yang diproduksi dari industri bukan khamr hukumnya tidak najis atau suci.
b. Penggunaan ethanol yang berasal dari industri non khamr di dalam produksi pangan diperbolehkan, selama tidak terdeteksi pada produk akhir.
c. Penggunaan ethanol yang berasal dari industri khamr tidak diperbolehkan.

3. Hasil Samping Industri Khamr

a. Fusel oil yang berasal dari hasil samping industri khamr adalah haram dan najis
b. Komponen bahan yang diperoleh dari industri khamr melalui pemisahan secara fisik adalah haram (contohnya iso amil alkohol),
c. tetapi apabila direaksikan untuk menghasilkan bahan baru, bahan baru tersebut adalah halal.

4. Flavor Yang Menyerupai Produk Haram

Flavor yang menggunakan nama dan mempunyai profil sensori produk haram, contohnya flavor rum, flavor babi, dan lain-lain, tidak bisa disertifikasi halal serta tidak boleh dikonsumsi walaupun ingredien yang digunakan adalah halal.

5. Produk Mikrobial

Produk mikrobial adalah halal selama ingredien medianya (mulai dari media penyegaran hingga media produksi) tidak haram dan najis

6. Penggunaan Alat Bersama

a. Bagi industri yang memproduksi produk halal dan non halal maka untuk menghindari terjadinya kontaminasi silang, pemisahan fasilitas produksi harus
b. dilakukan mulai dari tempat penyimpanan bahan, formulasi, proses produksi dan penyimpanan produk jadi.
c. Suatu peralatan tidak boleh digunakan bergantian antara produk babi dan non-babi meskipun sudah melalui proses pencucian.

F. BEBERAPA CONTOH BAHAN KRITIS

1. Daging

Daging yang berasal dari hewan halal dapat menjadi tidak halal jika disembelih tanpa mengikuti aturan syariat Islam. Hal-hal yang menjadi titik kritis proses penyembelihan adalah sebagai berikut :
a. Penyembelih (harus seorang muslim yang taat dan melaksanakan syariat Islam sehari-hari).
b. Pemingsanan (tidak menyebabkan hewan mati sebelum disembelih).
c. Peralatan/pisau (harus tajam)
d. Proses pasca penyembelihan (hewan harus benar-benar mati sebelum proses selanjutnya dan darah harus keluar secara tuntas).

Untuk daging impor perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini:

Harus dilengkapi dengan sertifikat halal dari lembaga yang diakui LP POM MUI.
Harus dilengkapi dengan dokumen pengapalan dan dokumen lainnya (kesehatan, dan sebagainya).
Harus ada kecocokan antara sertifikat halal dengan dokumen lain.
Harus ada kecocokan antara dokumen dengan fisik (kemasan, label, dan lain-lain)
Harus ada kecocokan nomor lot, plant number, tanggal penyembelihan, dan sebagainya.

2. Bahan Turunan Hewani

Bahan turunan hewani berstatus halal dan suci jika berasal dari hewan halal yang disembelih sesuai dengan syariat Islam, bukan berasal dari darah dan tidak bercampur dengan bahan haram atau najis. Berikut ini disampaikan contoh-contoh bahan turunan hewani / mungkin berasal dari turunan hewani :
 Lemak
 Protein
 Gelatin
 Kolagen
 Asam lemak dan turunannya (E430-E436)
 Garam atau ester asam lemak (E470-E495)
 Gliserol/gliserin (E422)
 Asam amino (contoh : sistein, fenilalanin, dan sebagainya)
 Edible bone phosphate (E521)
 Di/trikalsium fosfat
 Tepung plasma darah
 Konsentrat globulin
 Fibrinogen
 Media pertumbuhan mikroba (contoh : blood agar)
 Hormon (contoh : insulin)
 Enzim dari pankreas babi/sapi (amilase, lipase,pepsin, tripsin)
 Taurin
 Plasenta
 Produk susu, turunan susu dan hasil sampingnya yang diproses menggunakan enzim (contoh: keju, whey, laktosa, kasein/kaseinat)
 Beberapa vitamin (contoh: vitamin A, B6, D, E)
 Arang aktif
 Kuas

3. Bahan Nabati

Bahan nabati pada dasarnya halal, akan tetapi jika diproses menggunakan bahan tambahan dan penolong yang tidak halal, maka bahan tersebut menjadi tidak halal. Oleh karena itu perlu diketahui alur proses produksi beserta bahan tambahan dan penolong yang digunakan dalam memproses suatu bahan nabati. Berikut ini disampaikan beberapa contoh bahan nabati yang mungkin menjadi titik kritis:

 Tepung terigu dapat diperkaya dengan berbagai vitamin antara lain B1, B2, asam folat.
 Oleoresin (cabe, rempah-rempah dan lain-lain) dapat menggunakan emulsifier (contoh: polysorbate/tween & glyceril monooleat yang mungkin berasal dari hewan), supaya dalam larut air.
 Lesitin kedelai mungkin menggunakan enzim fosfolipase dalam proses pembuatannya untuk memperbaiki sifat fungsionalnya.
 Hydrolyzed Vegetable Protein (HVP) perlu diperhatikan jika proses hidrolisisnya menggunakan enzim.

4. Produk Hasil Samping Industri Minuman Beralkohol dan Turunannya

Produk/bahan hasil samping industri minuman beralkohol beserta turunannya berstatus haram jika cara memperolehnya hanya melalui pemisahan secara fisik dan produk masih memiliki sifat khamr. Akan tetapi jika bahan/produk tersebut direaksikan secara kimiawi sehingga menghasilkan senyawa baru, maka senyawa baru yang telah mengalami perubahan kimiawi statusnya menjadi halal. Beberapa contoh produk hasil samping industri minuman beralkohol dan turunannya yang merupakan titik kritis :

 Cognac oil (merupakan hasil samping distilasi cognac/brandy)
 Fusel Oil (merupakan hasil samping distilled beverages) dan turunannya seperti isoamil alkohol, isobutil alkohol, propil alkohol, gliserol, asetaldehid, 2,3 butanadiol, aseton dan diasetil dan sebagainya).
 Brewer yeast (merupakan hasil samping industri bir)
 Tartaric Acid (hasil samping industri wine)

5. Produk Mikrobial

Status produk mikrobial dapat menjadi haram jika termasuk dalam kategori berikut :

 Produk mikrobial yang jelas haram, yaitu produk minuman beralkohol (khamr) beserta produk samping dan turunannya.
 Produk mikrobial yang menggunakan media dari bahan yang haram pada media agar, propagasi dan produksi. Contoh media yg haram atau diragukan kehalalannya diantaranya : darah, pepton (produk hasil hidrolisis bahan berprotein seperti daging, kasein atau gelatin menggunakan asam atau enzim),
 Produk mikrobial yang dalam proses pembuatannya melibatkan enzim dari bahan yang haram.
 Produk mikrobial yang dalam proses pembuatannya menggunakan bahan penolong yang haram. Contohnya adalah penggunaan anti busa dalam kultivasi mikroba yang dapat berupa minyak/lemak babi, gliserol atau bahan lainnya.
 Produk mikroba rekombinan yang menggunakan gen yang berasal dari bahan yang haram. Contohnya adalah sebagai berikut :
a. Enzim -amilase dan protease yang dihasilkan oleh Saccharomyces cerevisae rekombinan dengan gen dari jaringan hewan.
b. Hormon insulin yang dihasilkan oleh E. coli rekombinan dengan gen dari jaringan pankreas babi.
c. Hormon pertumbuhan (human growth hormone) yang dihasilkan oleh E. coli rekombinan.
6. Bahan-Bahan Lain

Selain kelompok bahan-bahan di atas, berikut ini adalah contoh bahan/kelompok bahan lain yang belum sering menjadi titik kritis.

 Aspartam (terbuat dari asam amino fenilalanin dan asam aspartat)
 Pewarna alami
 Flavor
 Seasoning
 Bahan pelapis vitamin
 Bahan pengemulsi dan penstabil
 Anti busa
 Dan lain-lain

Sumber : halalmui.org

Tinggalkan Balasan