Memberikan yang Paling Dicintai

DAUNJATUH.COM – Suatu hari, Umar bin Khattab pernah menghadiahkan makanan kesukaannya, kepala kambing yang telah dimasak, kepada tetangganya. Rupanya, tetangga yang dianggap layak oleh Umar untuk menerima sedekah itu ingat dan ingin mengamalkan surah Ali Imran ayat 92, “Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, hingga kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”

Maka, kepala kambing siap saji itu dihadiahkan kepada tetangganya yang lain. Menariknya, masakan nikmat itu akhirnya berpindah sampai rumah ketujuh. Tanpa diketahui oleh tetangga-tetangganya itu, rumah ketujuh ini tahu jika makanan ini kesukaan Umar. Diantarkanlah masakan tersebut tanpa tahu bahwa kepala kambing itu berasal dari dapur rumah Umar. Akhirnya, masakan kepala kambing itu kembali lagi kepada pemiliknya, Umar bin Khattab. (HR al-Baihaqi dalam kitab Syuabul Iman: 3/259 dari Abdullah ibn Umar).

Apa yang dilakukan oleh Umar bin Khattab dan tetangganya menunjukkan mereka sebagai pribadi yang melimpah (giving oriented personality atau abundant personality). Islam menyebutnya orang yang bersyukur atas anugerah Allah, sehingga ia pun akan senantiasa ditambah limpahan rahmat-Nya.

Sebaliknya, mereka yang menutupi dan ingkar atas nikmat-Nya, sesungguhnya mereka menciptakan ‘neraka’ kegalauan untuk dirinya (QS Ibrahim: 7).Dari sini saja sudah dapat disimpulkan bahwa sikap dan orientasi hidup untuk senantiasa memberi dan melayani bisa menjadi sumber kebahagiaan dan puncak-puncak prestasi kehidupan seseorang. Orang tua akan bahagia dan merasa sukses apabila dapat memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya.

Seorang guru akan merasa bangga dan sukses saat melihat muridnya berhasil meraih kesuksesan dan menggapai cita-citanya. Para atlet juga merasa bahagia ketika berhasil mempersembahkan medali untuk bangsanya.Begitupun halnya seorang pemimpin tidak dianggap sukses ketika ia menjadi kaya raya karena bisa mengumpulkan harta dengan jabatannya. Seorang pemimpin dianggap sukses ketika ia siap hidup sederhana karena ingin memberikan seluruh potensi dan keunggulannya untuk rakyat dan negerinya.

Seorang ilmuwan juga akan dikenang sejarah jika bisa memberikan sumbangsih pemikiran dan pengetahuannya bagi kemanusiaan. Dan, orang kaya dikagumi adalah mereka yang dengan hartanya bisa menolong sesamanya.Seorang teman pengusaha katering di Sumenep pernah menyumbang sangat besar untuk pembangunan gedung panti asuhan dibandingkan para penyumbang lainnya.

Salah seorang pengurus yang kebetulan cukup dekat dengannya bertanya, “Sumbangannya kok besar Bu Haji?” Seketika itu ia menjawab, “Hanya itu (yang diinfakkan dan disedekahkan) yang pasti saya miliki, sisanya paling akan dimiliki anak cucu. Apalagi jika sudah dipanggil Allah.”Jadi, seseorang yang merasa memiliki kekayaan, harta benda, dan ilmu belum tentu memiliki.

Sebab, hal yang demikian belum tercatat dalam buku amal saleh hingga dimanfaatkan untuk kepentingan kemanusiaan menurut aturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Islam mengajarkan bahwa seseorang ketika meninggal hendaknya dapat mewariskan ilmu yang bermanfaat, kekayaan yang dibelanjakan, dan anak saleh yang mendoakan.Kita menyaksikan ramainya orang berbagi daging kurban. Jangan sampai sepotong daging kurban menghalangi kita untuk meraih yang terbaik di hadapan Allah.

Apa yang kita berikan kepada orang lain harusnya sama dengan apa yang kita nikmati. Tidak memilah dan memilih bagian tertentu dari hewan kurban yang kita sembelih. Allah berfirman, “Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS al-Baqarah [2]: 267). Di sinilah kita dapat mengalahkan kecintaan kita terhadap dunia untuk mencintai Allah. Wallahu a’lamu.*

Oleh: Bahrus Surur-Iyun – Republika

Tinggalkan Balasan