Gelora Api Jihad di Arakan Myanmar

DAUNJATUH.COM – Sekelompok pemuda terlihat berbaris tertib sepanjang jalan menyusuri kebun-kebun dan sawah yang hijau menghampar di bumi Arakan. Keringat terlihat bercucuran di tubuh mereka, namun semangat membara terpancar jelas di wajah-wajah yang puas setelah berhasil mempecundangi tentara Buddhist Myanmar.

Ahad, 9 Oktober 2016. Ketika itu jarum jam menunjukkan pukul 9 malam. Berbekal 2 pucuk Kalashnikov dan senjata tajam seperti pedang, pisau, dan ketapel, gabungan warga dan mujahidin menyerang sejumlah pos militer di distrik Maungdaw dan Rathedaung, negara bagian Rakhine (nama lain Arakan).

Sedikitnya 60 aparat polisi dan tentara pemerintah Myanmar tewas, sementara 9 orang gugur syahid dari pihak mujahidin dan warga Rohingya. Sebanyak 60 pucuk senjata, di antaranya AK Rusia dan senapan serbu G1 buatan Jerman menjadi rampasan pejuang.

Insiden ini merupakan tamparan keras bagi pemerintah koalisi Aung San Suu Kyi dan junta militer yang selama ini menerapkan kebijakan represif dan tak pernah mau mengakui keberadaan Muslim Rohingya.

Selama puluhan tahun rezim militer terus menebar kebencian dan permusuhan terhadap warga Muslim, terutama etnis Rohingya di Arakan. Mereka dianggap sebagai basis utama bagi sekitar 8 juta Muslim yang tersebar di seluruh Myanmar.

Di tengah cerita tragis tentang pembantaian, pengusiran, pemerkosaan, dan genosida terhadap warga Muslim di Myanmar, sekitar 1,5 juta etnis Rohingya yang tinggal di dalam negeri Myanmar telah menjadi ikon pengorbanan dan perjuangan Muslim. Di bawah penindasan rezim yang didukung oleh para ekstrimis Buddhist yang teragitasi oleh junta militer selama puluhan tahun.

Dari komunitas masyarakat Muslim itulah muncul sekelompok pemuda yang ingin berjuang membela hak-hak kemanusiaan dan agama mereka, meskipun sepi dari perhatian dunia.

Pasca amaliyat 9 Oktober, pemerintah Myanmar semakin brutal dan membabi buta dengan melakukan penangkapan-penangkapan disertai pembunuhan terhadap ratusan warga Muslim di Arakan.

Untuk menutupi rasa malu, korban tewas di pihak aparat yang berjumlah 60-an hanya diakui sembilan atau sepuluh orang. Di waktu yang sama, rezim pemerintah terus melakukan propaganda dengan membuat tudingan mengenahi adanya kelompok “teroris” bernama Aqamul Mujahidin dan pimpinannya Havistoohar.

Menurut seorang koresponden di lapangan, kedua nama itu muncul sebagai hasil penyesatan informasi sejumlah orang yang ditangkap, dan menjadi data palsu pemerintah Myanmar selama dua bulan.

Belum puas dengan penangkapan dan pembunuhan terhadap ratusan orang, pemerintah Yangon masih terus memburu dan membunuh apa yang mereka sebut sebagai kelompok ekstrimis.

Pada tanggal 13 November jam 6 pagi, ada kabar bahwa tentara berencana akan memasuki sebuah kampung yang terdapat banyak anak-anak mujahid tinggal di kampung tersebut. Setelah mengungsikan wanita dan anak-anak, gabungan warga dan mujahidin bersiap menyambut kedatangan tentara yang datang menggunakan truk-truk militer.

Alhasil, sebanyak 4 unit truk militer yang sedang mengangkut pasukan berhasil diledakkan pejuang-pejuang mujahidin di Arakan dengan menggunakan peledak improvisasi.

Sementara itu, sebuah truk lainnya hancur diserang warga yang beramai-ramai melakukan perlawanan. Kekalahan telak secara beruntun ini membuat pihak militer semakin kalap, sehingga mereka merespon dengan mengerahkan helikopter dan membumihanguskan desa tersebut.

Dua peristiwa aksi perlawanan bersenjata Muslim Rohingya pada bulan Oktober dan November 2016 lalu merupakan penanda sebuah babak baru perjuangan yang membawa optimisme dan keyakinan bahwa Muslim Rohingya kuat dan musuh mereka lemah.

Di samping itu, kedua peristiwa tersebut memberi pelajaran bahwa kemenangan tidak bisa diraih hanya dengan menunggu bantuan dari luar.

Dengan melakukan upaya-upaya tertentu, sekelompok pemuda pejuang Muslim Rohingya terus membangun kekuatan untuk menghadapi tantangan di masa yang akan datang. Demikian juga rezim junta Myanmar, tentu tidak akan tinggal diam dengan membiarkan semangat perlawanan dan perjuangan Muslim di Myanmar berkembang menjadi entitas jihadis yang kuat.

Menjadi salah satu pihak di tengah dinamika dan kontestasi dua kekuatan yang saling berhadapan, entitas Muslim di Myanmar sudah ambil bagian dan semakin meramaikan konstelasi konflik global di mana Islam dan Muslim menjadi aktor utamanya. Di situlah bumi Arakan (Myanmar) akan menjadi salah satu titik api perlawanan jihad di seluruh dunia.*

Sumber: Ahmad Al-Arakani, Koresponden Kiblat di Arakan

Tinggalkan Balasan