Shalawat Barzanji, Salam Cinta dari Tanah Jawa

DAUNJATUH.COM – Tradisi barzanji barangkali sudah jarang kita temukan di tengah komunitas Islam perkotaan. Namun, tradisi ini masih cukup kuat di kalangan pedesaan, khususnya yang kental dengan corak Nahdlatul Ulama.

Barzanji merupakan sebuah syair yang berisi puji-pujian dan shalawat kepada Nabi Muhammad. Kandungannya mencakup kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad ketika lahir, diutus menjadi rasul, masa hijrah, kemukjizatan, akhlak, peperangan, hingga wafat.

Tak sekedar mengekspresikan kerinduan mendalam umat Islam akan sosok Muhammad saw, syair ini juga menjadi sarana didaktis bagi umat Islam agar lebih mengenal suri tauladan mereka.

Sejarah barzanji di Nusantara menampakkan kuatnya jaringan global antara komunitas Muslim Nusantara dengan suku Kurdi. Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat telah mencatat beberapa hal mengenai tradisi Barzanji dan asal-usulnya.

Syair ini tidak hanya dibaca pada saat maulid Nabi tanggal 12 Rabiul Awal. Barzanji juga ikut mengiringi berbagai upacara, seperti pemotongan rambut seorang bayi untuk pertama kalinya, khitanan, khataman Alquran, atau secara rutin sebagai bagian dari wiridan berjamaah.

Nama kitab barzanji ini dinisbahkan kepada nama keluarga pengarangnya, yaitu Syekh Ja’far Al Barzanji dari Kurdistan. Keluarga Barzinji merupakan salah satu keluarga yang sangat terkemuka di Kurdistan bagian selatan pada abad ke-19 hingga abad ke-20.

Keluarga ini tergolong keluarga ulama dan syekh tarekat Qadiriyah yang memiliki pengaruh politik besar. Keluarga Barzanji mengaku keturunan Nabi Muhammad melalui Imam Musa Al-Kazhim.

Keluarga Barzanji dikenal luas di Nusantara setelah cicitnya, Ja’far Ibn Hasan Ibn ‘Abd al-Karim Ibn Muhammad (1690-1764), menulis kitab maulid ‘Iqd al-Jawahir atau lebih dikenal dengan Al-Barzanji. Beliau adalah seorang ulama sekaligus mufti yang dikenal berkat ilmu, akhlak, ketaqwaan, dan kemakbulan doanya.

Lantunan shalawat dan puji-pujian dalam syairnya memikat perhatian banyak orang, hingga tersebar ke berbagai penjuru negeri.

Selain Barzanji, umat Islam di Nusantara juga mengenal teks Burdah karya Syekh al Busyairi, Diba’i, Syair Rampai Maulid di Melayu, dan sejumlah teks-teks singir sejenis yang berbahasa Jawa.

Sumber : Republika

Tinggalkan Balasan