Menunaikan Hak Kelompok Mayoritas

Oleh : Nasaruddin Umar

DAUNJATUH.COM – Perlakuan adil bukan hanya untuk kelompok minoritas tetapi juga kepada kelompok mayoritas. Bukanlah keadilan sosial jika memanjakan kelompok minoritas lalu menyepelekan hak-hak kelompok mayoritas.

Kelompok minoritas dan kelompok mayoritas sama-sama sebagai manusia yang mempunyai hak-hak asasi yang sama. Itulah sebabnya Islam sesungguhnya tidak pernah mempopulerkan isu kelompok mayoritas dan minoritas.

Bahkan Al-Quran dengan tegas mengatakan: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya (QS al-Maidah/5:32).

Al-Quran tidak pernah mempopulerkan istilah konsep mayoritas (aktsariyyah) dan minoritas (aqaliyyah). Yang dipopulerkan oleh Al-Quran ialah hubungan (encounters) antara satu kelompok dengan kelompok lain tanpa membedakan mayoritas dan minoritas: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsadan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yangpaling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu (QS A-Hujurat/49:13).

Al-Quran lebih banyak menutupi perbedaan antara satu kelompok dengan kelompok lain tanpa menekankan unsur jumlah. Al-Quran mengisyaratkan agar jangan terkecoh dengan jumlah mayoritas atau minoritas, sebab itu bisa sangat relatif.

Ilustrasi Al-Quran indah sekali dengan menjelaskan boleh jadi dalam suatu saat ada golongan termasuk minoritas secara kuantitas tetapi mayoritas atau dominan di dalam masyarakat. Sebaliknya ada golongan mayoritas secara kuantitatif tetapi minoritas secara kualitatif, misalnya disebutkan dalam ayat “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS al Baqarah/2:249).

Dalam mengatasi problem mayoritas-minoritas ini tentu yang diperlukan bukan jalan tunggal dalam mencapai suatu tujuan, tetapi diperlukan jalan-jalan alternatif, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain (QS Yusuf/12:67).

Yang penting bagi para komponen masyarakat, baik golongan mayoritas maupun minoritas diminta untuk menekankan titik temu (kalimah sawa), sebagaimana disebutkan dalam ayat: Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (common platform) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu (QS Ali Imran/3:64).

Golongan manapun, baik mayoritas maupun minoritas, diminta untuk berbaik sangka antara satu sama lain, sebagaimana disebutkan dalam ayat: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain (QS al-Hujurat/49:12). Jika rambu-rambu yang ditanam di dalam Al-Quran ini diimplementasikan di dalam masyarakat sudah barang tentu akan lahir sebuah masyarakat ideal.

Sumber : Inilah.com

Tinggalkan Balasan