OPINI
Now Reading
Betawi, Toleransi, dan Polemik Ahok

Betawi, Toleransi, dan Polemik Ahok

by daunjatuhNovember 19, 2016

Oleh: Abdullah Sammy, Jurnalis Republika.

DAUNJATUH.COM – Menuding warga Muslim Jakarta tidak toleran adalah sebuah omong kosong besar. Mungkin, anda yang telah lama tinggal di Jakarta sepaham dengan saya.

Sebab warga asli Jakarta alias Betawi boleh dibilang sebagai salah satu suku yang paling toleran di Indonesia. Cara membuktikannya sederhana. Tak perlu propaganda buzzer untuk meyakinkan bagaimana harmoni dan toleransi terbina lama di ibu kota selama ini.

Cukup pandangi kondisi nyata di sekitar anda yang hidup berdampingan dengan komunitas Betawi. Di lingkungan saya tinggal, ada beberapa contoh sederhana bagaimana harmoni bisa dibangun oleh komunitas Betawi terhadap pendatang, terutama pada kelompok minoritas.

Kejadian pertama yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri adalah saat kerusuhan pecah di Jakarta pada tahun 1998. Saat itu, saya masih bermukim di kawasan Petukangan Selatan, Jakarta Selatan.

Singkat cerita, ada sebuah gereja yang hendak dirusak massa. Di dalam rumah ibadah itu, ada beberapa penghuni gereja dan juga seorang yang warga keturunan yang mengungsi akibat rukonya di bakar massa.

Di tengah kondisi massa yang hendak masuk merusak gereja, seorang tokoh Betawi asli yang tinggal di sekitar rumah ibadah itu keluar dengan menenteng senjata tajam.

Dia biasa dipanggil Haji Sanusi oleh masyarakat sekitar Petukangan Selatan. Pak Haji itu datang bersama beberapa warga ke lokasi gereja.

Haji Sanusi pun mengancam akan bertindak kasar kepada pihak yang berniat merusak rumah ibadah kelompok minoritas di Petukangan itu.

Tak berhenti sampai di situ, beberapa orang yang mengungsi di gereja lantas diajak oleh Pak Haji untuk masuk ke rumahnya hingga kondisi mereda. Kebetulan rumah saya bersebelahan dengan Pak Haji dan berada persis di belakang gereja.

Di saat Pak Haji membuka pintu rumahnya untuk kelompok minoritas, dia pun bersama beberapa warga lantas berjaga di depan gereja. Pak Haji dengan beberapa warga Betawi itu lantas menggelar ronda untuk mencegah usaha pengursakan atau penjarahan susulan di rumah ibadah itu.

Ada lagi contoh yang saya dapati ketika bermukim di kawasan Mampang. Setiap Idul Fitri tiba, keluarga Betawi asli Mampang senantiasa membagikan opor kepada tetangga sekitar. Ini termasuk kepada tetangga yang beragama non-Muslim.

Selain itu, setiap ada warga yang hendak menggelar hajatan, warga Betawi di sekitar Mampang selalu berusaha membantu. Uluran tangan spontan dan sukarela ini tak mengenal batas ekonomi, suku, atau agama. Semua yang mengadakan acara selalu mereka bantu secara suka rela.

Masih banyak contoh dan tradisi betapa ramahnya warga Betawi dalam menjalin hidup bertetangga. Anda sekalian yang hidup berdampingan dengan Betawi asli pasti tahu bagaimana budaya keramahan dan keterbukaan suku ini terhadap setiap pendatang, bahkan yang berbeda ras dan agama.

Dengan segala fakta yang ada, saya jadi heran dengan usaha gencar yang kini gencar dilakukan kelompok pendukung ataupun buzzer yang coba mencitrakan Jakarta sebagai kota yang tidak toleran. Bahkan ada yang menganggap komunitas Muslim Betawi sebagai komunitas yang rasis terhadap kelompok minoritas.

Sebuah narasi propaganda yang amat kejam bila disematkan kepada Betawi asli. Narasi ini hanya dibangun dengan kenyataan resistensi warga Betawi terhadap Ahok saat ini. Sebuah narasi yang saya kira dibangun dengan gegabah.
Mengartikan penolakan komunitas Betawi terhadap Ahok sebagai sikap SARA memang menjadi strategi yang sengaja dimainkan. Ini untuk bermain lakon sebagai korban demi meraih simpati.

Padahal resistensi terhadap Ahok sama sekali bukan bentuk diskriminasi terhadap ras atau agama tertentu. Saya ingin membuktikannya dengan sederet fakta empiris.

Mengawali pembahasan, saya ingin menjelaskan mengenai akar kepercayaan mayoritas masyarakat Betawi yang memegang teguh prinsip Islam dengan aliran Asy-ariyah. Aliran ini termasuk aliran Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Secara umum, mayoritas warga Betawi adalah warga Nahdlatul Ulama (NU) yang menjalankan sejumlah tradisi seperti membaca maulid, tahlil, ziarah kubur, di samping ibadah wajib yakni salat serta mengaji.

Dalam konsep memilih pemimpin, mayoritas warga Betawi memercayai tafsir yang terkandung dalam surat Al Maidah ayat 51 yang berisi larangan memilih pemimpin non-Muslim.

Sekalipun begitu, warga Betawi pun menerima dengan terbuka apabila ada pemimpin non-Muslim yang terpilih dengan cara demokratis dan konstitusional. Buktinya, pada 1964, Jakarta sudah pernah dipimpin oleh gubernur non-Muslim, yakni Henk Ngantung.

Jadi fakta pula bahwa warga Betawi pun menerima secara legowo kenyataan Ahok ditunjuk sebagai gubernur menggantikan posisi Jokowi pada 2014. Rasanya kalau mereka murni menolak karena ras dan agamanya Ahok, resistensi yang lebih keras seharusnya sudah terjadi pada 2014. Sebab sejak 2014 itu agama atau ras Ahok sudah berbeda. Tapi nyatanya, masyarakat Betawi bisa menerima.

Nah, saya kira konsep yang dipakai warga Betawi ini sangat fair. Mereka sadar punya hak untuk tak memilih Ahok dengan dasar Al Maidah ayat 51. Tapi di sisi lain, mereka punya kewajiban untuk menerima kenyataan bahwa Ahok yang akhirnya memimpin mereka secara konstitusional sejak 2014 hingga 2017.

Konsep ini pun saya kira akan mereka usung pada 2017 hingga 2022 nanti.

Namun bukankah warga Betawi begitu marah dengan Ahok saat ini? Bahkan di beberapa wilayah Ahok ditolak. Dan bukan rahasia apabila mayoritas Betawi ikut dalam aksi demonstrasi besar pada 4 November lalu.
Apakah ini menjadi bukti nyata bahwa ini bentuk kebencian Betawi kepada gubernur yang berasal dari kalangan minoritas?

Untuk menjawab hal ini mari kita membuka lembaran sejarah. Sebab ada adagium bahwa bangsa ini kerap melupakan sejarah hingga kerap salah dalam mengambil kesimpulan atas sebuah persoalan.

Saya ingin mengajak anda kembali ke tanggal 14 April 2010. Peristiwa ini terjadi di kawasan Koja Jakarta Utara, dua tahun sebelum Pemilukada DKI 2012.

Pada saat itulah mayoritas warga Betawi menunjukkan kemarahannya pada gubernur yang saat itu menjabat, Fauzi Bowo. Penyebabnya adalah langkah Foke yang hendak meratakan kuburan Mbah Priok. Kuburan yang menjadi salah satu situs ritual masyarakat Betawi.

Akibat salah satu kepercayaan masyarakat Betawi disinggung, Tanjung Priok berubah menjadi medan kerusuhan besar. Tiga satpol PP tewas, ratusan korban luka berjatuhan, hingga puluhan kendaraan dibakar.

Kejadian itulah yang membuat Foke kehilangan sejumlah suara dari kalangan muslim Betawi pada Pemilukada 2012. Besar atau kecil, ulah Foke ini berkontribusi pada kekalahannya dari Jokowi.

Mencermati peristiwa 2010 itu, kita disajikan sebuah fakta nyata. Foke yang statusnya satu ras dan agama dengan Betawi pun disikat. Sebab Foke dianggap telah menistakan kepercayaan Betawi yang gemar ziarah kubur di makam yang mereka anggap keramat.

Walhasil, mau dia pemimpin satu suku atau agama, selama dia menyinggung kepercayaan Betawi, maka akan tetap mengundang resistensi keras. Kepemimpinan Foke saat itu jadi contoh nyata. Dampaknya adalah kerusuhan besar Koja 2010 yang datanya secara detail masih mudah kita jumpai di dunia maya ini.

Dan kini, urusan kepercayaan kembali disinggung seorang gubernur DKI, yakni Ahok. Tidak tanggung-tanggung, yang disinggung adalah Al Quran, yakni Al Maidah ayat 51. Kebetulan saja Ahok itu beragama Nasrani dan memiliki darah keturunan.

Lantas, jika merujuk fakta kasus Foke terkait makam Mbah Priok, bisakah kita tetap menilai resistensi yang kini terjadi pada Ahok adalah semata sentimen SARA?

Saya juga ingin mengutip buku yang ditulis oleh Sejarawan Betawi, Alwi Shahab. Dalam buku berjudul Robinhood Betawi, digambarkan bagaimana sikap toleran Betawi pada setiap kelompok minoritas. Dalam buku itu ditulis bahwa nyaris mustahil suku Betawi melakukan tindakan rasialis kepada minoritas, utamanya keturunan Cina.

“Meragukan kalau ada orang Betawi yang bertindak rasialis terhadap keturunan Cina. Karena sejak dulu antara orang Betawi dan Cina hidup rukun,” begitu tulis Alwi dalam buku Robinhood Betawi halaman 117.

Dalam buku itu juga ditulis, sejak tahun 1950’an dan awal 1960’an di tiap lorong dan tempat di Jakarta terdapat pedagang Cina. Mereka membuka warung dan berdagang sembilan bahan pokok termasuk rempah-rempah.

Masyarakat tidak pernah mempersoalkan kehadiran mereka. Bahkan, menurut Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) H Irwan Sjafei, banyak nama warung milik keturunan Cina yang kemudian dikenang sebagai nama tempat di Jakarta hingga saat ini. Seperti Jl Warung Buncit, karena Cina pemilik warung di sini perutnya gendut alias buncit. Nama Warung Pedok di Tebet, karena Cina pemilik warung kakinya dengdek (pedok).

Dalam kaitan dengan agama, orang Betawi menurut Irwan, tidak akan iri hati terhadap para pendatang yang sukses. Sebab orang Betawi selalu memegang konsep ‘rezeki merupakan anugerah dari Allah.’ Pendatang yang sukses mereka anggap sebagai berkah dari Allah.

”Mereka tidak mau omongin kekayaan para pendatang karena takut melakukan ghibah yang dilarang oleh agama Islam,” ujar H. Irwan.

Contohnya adalah kampung-kampung Betawi yang kini berubah menjadi kawasan elit seperti Kemang, Pondok Indah, Simpruk, Kebagusan, dan Ciganjur. Di sini terdapat rumah-rumah mewah milik pendatang. Sementara orang Betawi tinggal di lorong-lorong jalan yang sempit dan kumuh.

Pada sisi lain, di masa sekarang buzzer-buzzer boleh saja terus merekayasa opini yang menyudutkan masyarakat Betawi sebagai suku yang rasis. Miliaran rupiah pun bisa saja terus mengalir guna membayar operasi ini di media.

Namun, sebuah fakta sejarah tetap tak bisa berubah. Bahwa Muslim Betawi adalah suku yang begitu toleran. Saya rasanya tidak rela melihat pak haji dan ibu-ibu Betawi dicap sebagai aktor rasis lewat operasi para buzzer di sosial media.
Sebab nyatanya justru kaum Betawi yang senantiasa jadi korban. Sudah tergusur oleh kemajuan kota, budayanya kerap dinistai, dan masih pula dituding sebagai biang keladi.

Padahal yang menuding itu yang selama ini hanya hidup hura-hura di ibu kota. Mereka ini kerap menutup mata dengan kondisi hidup memprihatinkan suku asli Jakarta. Mereka hanya hidup di ‘ruang’ mereka sendiri.

Tapi Betawi tetaplah Betawi. Sejarah tetap mencatat bagaimana suku ini senantiasa bisa bertahan di tengah propaganda dan segala bentuk penjajahan. Mulai dari Portugis, Belanda, Jepang, hingga kini dijajah oleh para penguasa modal.

Tak peduli seberapa sulit hidup mereka, Betawi memang terbukti berhati besar. Mereka legawa memberikan sebagian besar wilayah mereka sebagai tempat mengadu nasib bagi warga pendatang. Semua dilakukan dengan tangan terbuka tanpa mengenal suku, ras, dan agama.

Namun di tengah segala keramahan, jangan sekali-kali menyinggung kepercayaan Betawi. Direndahkan secara ekonomi masih mereka bisa terima. Dianggap sepele mereka juga masih legawa. Menjadi bahan ejekan buzzer pun mungkin suku Betawi ini tak mengapa.

Tapi jangan pernah sekali-kali menyinggung kepercayaannya mereka. Sebab ada prinsip yang selalu dipegang orang Betawi.

Sebuah prinsip yang diadopsi semangat tarung para jawara. ‘Tidak ingin menjual. Tapi kalau lawan mau menjual, kita akan beli. “Elu jual, gua beli!”

Sumber : Republika

About The Author
daunjatuh

You must log in to post a comment