Seperti Apa Sosok Pemimpin Islam?

DAUNJATUH.COM – Lantas siapakah yang layak menjadi pemimpin kaum muslimin, yang menjaga dien serta mengatur dunia dengan dien tersebut? Islam sangat ketat dalam persoalan kriteria sosok imam. Mereka yang hendak menduduki kursi kepemimpinan wajib memenuhi syarat-syarat berikut:

Pertama, beragama Islam, maka tidak sah kepemimpinan yang bukan muslim, karena ia bagian dari hukum syar’i yang mengatur kehidupan kaum muslimin. Sehingga tidak mungkin memberikan tugas ini kepada orang yang tidak beriman.

Kedua, laki-laki, maka tidak sah kepemimpinan wanita, berdasarkan sabda Rasulullah, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita.” (HR. Bukhari No. 4163). Selain itu, dalam kepemimpinan akan ada persoalan-persoalan yang pelik, yang mana kaum wanita tidak mampu menyelesaikannya.

Ketiga, ar-rusydu (berakal lurus), maka tidak sah kepemimpinan anak-anak, orang lemah akal dan yang sepertinya, sekalipun ia dikelilingi oleh para pembimbing. Rasulullah bersabda, “Berlindunglah kepada Allah dari kepemimpinan anak-anak.” (HR. Ahmad No. 2/326).

Keempat, ‘adalah (memilki kepribadian lurus), yaitu ia belum pernah melakukan dosa besar, seperti berzina, membunuh, memakan riba dan tidak melazimi dosa-dosa kecil. Juga tidak mengangkat orang fasik sebagai pemimpin karena tidak memenuhi kriteria ‘adalah.

Kelima, memiliki ilmu tentang hukum-hukum syar’i beserta dalil-dalilnya yang membuatnya kapabel dan layak untuk berijtihad saat dibutuhkan, karena dalam syari’at Islam banyak masalah yang hanya boleh ditetapkan oleh seorang imam, dan ia memutuskan berdasarkan ijtihadnya yang mengacu kepada asas kemaslahatan kaum Muslimin.

Keenam, memiliki pendengaran, penglihatan, dan lisan yang sehat, dan tidak boleh cacat pada salah satu dari tiga perkara ini, karena cacat pada salah satu darinya menghalanginya mengerjakan tugas-tugas kepemimpinan dengan baik.

Ketujuh, memiliki kecerdasan dan kesadaran penuh, sehingga ia dipandang layak untuk memutar roda pemerintahan, menjaga negeri dan umat dari keburukan yang mengancamnya. Tolak ukur kecerdasan dan kesadaran tersebut tergantung pada kebijakan cendekiawan dan ahli syura yang telah berpengalaman.

Kedelapan, bernasab Quraisy. Hal ini berdasarkan hadits dari Anas radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda, “Para pemimpin itu dari Quraisy.” (HR. Ahmad No. 3/139).

Dalam riwayat Bukhari disebutkan bahwa, “Sesungguhnya kepemimpinan ini ada di tangan Quraisy.” Riwayat Muslim disebutkan pula bahwa, “Orang-orang mengikuti Quraisy dalam kepemimpinan ini.”

Syarat yang terakhir ini adalah khusus untuk pemimpin tertinggi kaum muslimin, yang secara istilah disebut imamatu al-udzma. Syarat tersebut juga tidak mutlak, hanya saja bila orang Quraisy yang bersangkutan memenuhi syarat-syarat sebelumnya. Namun, jika tidak maka cukup yang bernasab Arab secara umum, yakni nasab arab asli. Bila tetap tidak ada, maka cukup dengan 7 syarat pertama apa pun nasabnya.

Adapun bila ada sebagian syarat yang tidak terpenuhi, maka wajib mendahulukan sifat-sifat kelayakan memimpin di atas sifat-sifat kelayakan pribadi, misalnya orang yang menguasai urusan-urusan hukum dan ahli dalam mengatur perkara patut didahulukan, sekalipun mungkin kelurusan (‘adalah) pribadinya dipermasalahkan yang disebabkan perilaku pribadinya yang kurang baik atas orang yang tidak memiliki sifat-sifat kelayakan memimpin, walaupun dari sisi pribadi dia adalah orang lurus, hanya saja syarat beragama Islam adalah syarat yang harus ada dan tidak bisa ditawar.

Mereka Yang Bermadzhab Syafi’i

Mayoritas umat Islam di Indonesia menganut mazhab syafi’i, oleh karena itu hal ini mesti dipahami. Maka menjadi lewajiban bagi kita untuk mewujudkan adanya seorang pemimpin yang layak dan kapabel dalam mengatur kehidupan umat Islam, karena ini adalah adalah tuntutan. Sebagaimana lazimnya fardhu kifayah, jika tidak ada satupun yang berjuang menegakkannya, maka seluruh umat Islam bisa terkena dosanya. Tentunya, bukan sembarang pemimpin, yang hanya bermodalkan harta, kedudukan dan jabatan, tapi dari sisi kepribadiannya sangat tidak pantas untuk menjadi pengganti dari tugas kenabian ini.

Perlu diketahui, jika ada seseorang yang diketahui kefasikannya (ibtida’an, berbeda jika kefasikannya muncul setelah dia menjadi khalifa), maka ia tidak boleh dipilih dan diangkat menjadi pemimpin. Bahkan para ulama tidak memperbolehkan seluruh umat Islam memilih seorang yang ma’ruf akan kelalimannya, sebagai seorang ‘khalifah’. Jika ada seorang khalifah yang melakukan tindak kelaliman dan ketidakadilan pada saat masa kepemimpinannya maka wajib diingkari.

Kalau pemimpin yang di kenal akan kefasikan dan kelalimannya sejak awal saja tidak boleh dipilih menjadi pemimpin, apalagi jika ia seorang yang kafir lagi memusuhi Islam. Imam An-Nawawi menukil perkataan Qadhi Iyadh, “Para ulama telah sepakat bahwa kekuasaan tidak diberikan kepada orang kafir, bila ada kekafiran padanya maka harus dilengserkan, demikian pula bila meninggalkan shalat dan do’a.” (Syarh Shahih Muslim, 12/229). Wallahu waliyyu at-Taufiq.

Baca sebelumnya :

MODEL KEPEMIMPINAN IDEAL DALAM MAZHAB SYAFI’I

Penulis: Asy-Syathiri dari Yanisari Teams – Kiblat

Referensi:

Al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniyah, Kairo, Darul Hadits.2006

Musthafa al-Kin dan Musthafa al-Bugha, al-Fiqh al-Manhaji Ala Madzhab al-Imam asy-Syafi’i, versi maktabah syamila

Tinggalkan Balasan